84 Anak Alami Kekerasan

290

KENDAL—Angka kekerasan anak di Kendal masih cukup tinggi. Tercatat selama 2015 dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) melansir ada 111 kasus kekerasan, 84 diantaranya menimpa anak.

Jumlah tersebut meningkat dari pada jumlah kasus KDRT 2014 dengan 104 kasus dan 91 kasus di 2013. Dari 111 kasus KDRT, 84 di antaranya menimpa anak-anak dan sisanya 27 kasus menimpa orang dewasa.“Kebanyakan korban adalah perempuan sebanyak 81 kasus, sedangkan laki-laki sebanyak 30 kasus,” ujar Kabid Kesejahteraan dan Perlindungan BPPKB Kendal, Akhyan, Senin (18/1).

Dari 81 kasus kekerasan anak-anak, pelakunya kebanyakan juga anak-anak sendiri. Terhadap kasus yang pelakunya anak-anak, ada 18 kasus diselesaikan di luar pengadilan (diversi).

Penyelesaian diversi jika ancaman hukumannya kurang dari 7 tahun. Namun jika ancaman hukumannya di atas 7 tahun dan dilakukan berulang-ulang, maka penyelesaian tetap di pengadilan. “Yang diversi ada kasus laka lantas, kekerasan dan juga pemerkosaan,” katanya.

Berbagai upaya dilakukan untuk mencegah tindak kekerasan. Salah satunya dengan sosialisasi dan penyuluhan dengan menggandeng PKK kecamatan dan organisasi kepemudaan. “Yakni dengan sosialisasi dan pemahaman Undang-Undang kekerasan anak dan perempuan,” ujar Kepala BPPKB Kabupaten Kendal, Dyah Aning Budiarti.

Menurut Dyah Aning, peran keluarga sangat penting dalam memberikan pendidikan anti kekerasan. Khususnya kepada anak-anak dan remaja yakni dengan mengarahkan pendidikan agama.“Selain itu mengarahkan anak-anaknya agar mengikuti pergaulan yang baik. Sebab anak itu seperti kertas putih, yang cenderung mudah terpengaruh akan lingkungan sekitarnya. Jika lingkungan baik, maka anak akan mengikutinya, begitu sebaliknya,” paparnya.

Selain itu, perhatian dan peran keluarga sangat penting untuk mengarahkan anak dalam menggunakan media sosial. Sebab kasus kekerasan sekarang ini banyak dipengaruhi penggunan media sosial dan kebanyakan menimpa keluarga TKI. “Anak dari keluarga TKI ini kurang mendapatkan perhatian dari orang tua. Sehingga lebih cenderung bebas dan mudah dipengaruhi karena tanpa pengawasan orang tua,” tambahnya. (bud/zal)