Dikti Akan Hapus Akreditas Prodi

261

SEMARANG – Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) segera mengganti sistem akreditasi pada program studi (Prodi) di Perguruan Tinggi (PT). Hal itu dibenarkan Dirjen Kelembagaan Kemristek Dikti, Totok Prastyo usai memberikan kuliah umum di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Minggu (13/12).

Dijelaskan Totok, pergantian sistem akreditasi tersebut menjadi salahsatu topik yang dibicarakan pada Rapim Kemenristek Dikti, beberapa waktu lalu. Selain dari PT, masukan agar digantinya sistem akreditasi tersebut juga berasal dari masyarakat.“Karena PT yang prodinya memiliki akreditasi C, untuk menjadi Negeri sangatlah sulit,” kata Totok.

Sehingga banyak masyarakat dan PT yang menginginkan agar akreditasi pada Prodi diganti. Meski begitu, hal tersebut tidak berpengaruh kepada lembaga PT yang bersangkutan. “Yang dihapus istilahnya saja, kelembagaan masih diakreditasi BAN (Badan Akreditas Nasional),” lanjutnya.

Saat ini, Kemenristek Dikti telah meluncurkan beberapa Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi (LAM) antara lain LAM PT Kesehatan Indonesia (LAM-PTKes). Lembaga ini merupakan acuan perguruan tinggi kesehatan dalam menjaga kualitas pendidikan.

Upaya penjaminan mutu kualitas pendidikan tinggi diamanahkan dalam Undang-Undang (UU) Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan diperkuat pada UU Nomer 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.

Sementara itu, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomer 50 Tahun 2014 menjadi acuan tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPM-Dikti). “SPM-Dikti terdiri dari Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME),” katanya. SPMI sendiri dikembangkan oleh perguruan tinggi, sedangkan SPME dikembangkan oleh BAN-PT dan LAM melalui akreditasi perguruan tinggi dan prodi.

Pengaturan terkait akreditasi sendiri, dituangkan dalam Permendikbud No. 87 Tahun 2014 tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi. “Meskipun akreditasi dihapus, nanti juga ada pengklasifikasiannya,” ujarnya.

Sementara itu, dalam kuliah umum tersebut disinggung tentang kesiapan Prodi dalam PT dalam menghadapi MEA. Saat ini, persiapan menghadapi MEA hanya dilakukan pada level lulusan. “Sedangkan prodi sebagai tempat menempa lulusan seharusnya juga harus diperhatikan,” ujar Wakil Rektor Unwahas, Mahmuhtarom.

Menurutnya, selain mahasiswa sistem dalam prodi juga harus di perhatikan mulai dari tata kelola keuangan hingga tata kelola pengajaran. Sehingga setiap lini PT dan lulusan siap menghadapi MEA. (ewb/zal)

Silakan beri komentar.