Kejar Mafia Premium, Polisi Teliti Kandungan RON

291

BANYUMANIK – Tim penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng masih terus mengejar mafia Bahan Bakar Minyak (BBM) premium sebanyak 133 Metric Ton atau kurang lebih 133 ribu liter yang diselundupkan menggunakan kapal Tanker MT-BS9 berbendera Malabo.

Kali ini, penyidik meneliti kandungan BBM premium Real Octane Number (RON) atau oktan premium terhadap BBM barang bukti yang disita. ”Kami lalukan uji laboratorium untuk mengetahui kandungan RON dalam premium tersebut, apakah termasuk bersubsidi atau tidak,” kata Kepala Sub Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Syarif Rahman, kemarin.

Dijelaskannya, untuk menguji kandungan tersebut, pihaknya melibatkan tiga institusi yakni Sucofindo, Pertamina dan Bea Cukai. ”Ini untuk memperkuat data agar tersangka tidak mengelak,” katanya.

Dia menjelaskan, jika kandungan RON mencapai 90 berarti, BBM premium tersebut bersubsidi yang berasal dari negara sendiri. Namun demikian, Rahmat mengaku masih menunggu hasil uji laboratorium tersebut. ”Hasilnya belum diketahui,” imbuhnya.

Sedangkan barang bukti kapal berbobot mati 1.081 GT saat ini disita di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Begitu pun sebanyak sembilan anak buah kapal (ABK) juga masih berada di kapal tersebut dengan dijaga oleh anggota kepolisian dari Ditreskrimsus dan Ditpolair Polda Jateng.

Diduga kuat, otak penyelundup BBM premium tersebut adalah warga negara Malaysia bernama Rusli. Warga negeri Jiran yang mengendalikan penyelundupan menggunakan handphone itu hingga saat ini masih diburu.

Kapal bermuatan 133.000 liter premium ilegal tersebut ditangkap oleh tim gabungan Bea Cukai Kantor Wilayah Jateng-DIJ, Kepolisian Daerah Jawa Tengah, dan Pangkalan TNI Angkatan Laut, saat bersandar di perairan Parang Karimun Jawa, Jepara, Jawa Tengah, 14 November 2015 lalu. Diperkirakan, negara dirugikan Rp 11 miliar sampai Rp 12 miliar akibat penyelundupan tersebut.

Saat digerebek, di dalam kapal tersebut terdapat sebanyak 11 orang Anak Buah Kapal (ABK) yang semuanya merupakan warga Indonesia. Dua di antaranya telah ditetapkan tersangka.

Sedangkan proses pidana terkait Undang-Undang Migas dan Undang-Undang Pelayaran diserahkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, tersangkanya satu yakni Fian Alun Nofrianto. (amu/zal/ce1)