Permintaan TKW di Bidang Garmen Masih Tinggi

399
AGAR SIAP PAKAI: Para peserta tengah mengikuti pelatihan di Balai Pengembangan SDM dan Produk IKM Disperindag Jateng, di Jalan Tambak Aji Raya, Semarang. (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AGAR SIAP PAKAI: Para peserta tengah mengikuti pelatihan di Balai Pengembangan SDM dan Produk IKM Disperindag Jateng, di Jalan Tambak Aji Raya, Semarang. (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AGAR SIAP PAKAI: Para peserta tengah mengikuti pelatihan di Balai Pengembangan SDM dan Produk IKM Disperindag Jateng, di Jalan Tambak Aji Raya, Semarang. (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AGAR SIAP PAKAI: Para peserta tengah mengikuti pelatihan di Balai Pengembangan SDM dan Produk IKM Disperindag Jateng, di Jalan Tambak Aji Raya, Semarang. (M NUR WAHIDI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Permintaan pekerja wanita untuk perusahaan garmen di Jawa Tengah cukup tinggi. Tetapi kebutuhan tersebut sulit bisa terpenuhi, lantaran perusahaan garmen biasanya membutuhkan tenaga kerja yang sudah terampil. Sementara penyediaan tenaga kerja wanita terampil sangat terbatas.

Dari data Balai Pengembangan SDM dan Produk IKM Disperindag Jateng, rata-rata setiap tahun 4.000 calon tenaga kerja yang telah dididik menjadi tenaga kerja terampil menjahit di balai tersebut, berhasil terserap menjadi tenaga kerja di industri garmen, atau menjadi wirausaha mandiri UMKM. Namun kebutuhan perusahaan garmen per tahun untuk pekerja wanita mencapai 12 ribu pekarja.

”Permintaan itu sangat tinggi bahkan pada tahun ini ada 12.000 permintaan, tetapi kami baru mampu memenuhi 4.000 tenaga. Dari angka sebanyak itu, 60 persennya sudah ditempatkan di perusahaan-perusahaan industri garmen, dan sisanya membuka wirausaha sendiri menjadi pegusaha UMKM,” ungkap Kepala Balai Pengembangan SDM dan Produk IKM Disperindag Jateng, Listyati Purnama, kemarin, saat menerima 40 calon tenaga kerja dari Nusa Tenggara Timur, yang akan dididik menjadi tenaga terampil menjahit di balai tersebut.