Sibagus Beri Solusi Bertani di Lahan Sempit

272
MENERIMA: Ruddy Supriatna Widjaja, terdakwa dugaan korupsi penyimpangan keuangan dan kredit fiktif di Kantor Unit Pengelolaan Cabang (UPC) Pegadaian Pasar Mangkang Cabang Kaliwungu tahun 2014 saat mendengarkan putusan majelis hakim. (Joko Susanto/Jawa Pos Radar Semarang)
URBAN FARMING : Agus Sutyoso mendorong warga di RT VI RW IV Kelurahan Wonolopo Kecamatan Mijen, berkebun di pelataran rumahnya dengan bibit cabe yang ditanam di polybag. (AJIE MAHENDRA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
URBAN FARMING : Agus Sutyoso mendorong warga di RT VI RW IV Kelurahan Wonolopo Kecamatan Mijen, berkebun di pelataran rumahnya dengan bibit cabe yang ditanam di polybag. (AJIE MAHENDRA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MIJEN–Bertani tak selalu membutuhkan lahan luas, jika sekadar untuk memenuhi kebutuhan dapur rumahan. Warga bisa memanfaatkan lahan sempit dengan menanami pelataran rumah seperti lombok, tomat, kemangi, dan lain sebagainya. Urban farming, begitu istilahnya bercocok tanam di lahan sempit.

Hal itu yang saat ini digeber pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Semarang, Sigit Ibnugroho-Agus Sutyoso (Sibagus) untuk mendorong warga dalam mencukupi kebutuhan dapurnya sendiri.

Agus menerangkan, urban farming sudah menjadi hal wajar di Jepang. “Urban farmin dilakukan mereka untuk menyiasati minimnya lahan untuk bercocok tanam. Nah, tidak ada salahnya kalau diterapkan di permukiman Kota Semarang,” ungkap kata Agus Sutyoso ketika menggelar sosialisasi di RT VI RW IV Kelurahan Wonolopo Kecamatan Mijen, Rabu (30/9) kemarin.