Sibagus Akan Genjot Industri Kreatif

Kurang Setuju Larangan Parkir di Pandanaran

577
BLUSUKAN: Calon Wali Kota Semarang, Sigit Ibnugroho dan sang istri, Daning Arista Putri tak canggung naik becak dan berbaur dengan rakyat kecil untuk melihat kondisi nyata saat blusukan di Gayamsari beberapa waktu lalu. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BLUSUKAN: Calon Wali Kota Semarang, Sigit Ibnugroho dan sang istri, Daning Arista Putri tak canggung naik becak dan berbaur dengan rakyat kecil untuk melihat kondisi nyata saat blusukan di Gayamsari beberapa waktu lalu. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BLUSUKAN: Calon Wali Kota Semarang, Sigit Ibnugroho dan sang istri, Daning Arista Putri tak canggung naik becak dan berbaur dengan rakyat kecil untuk melihat kondisi nyata saat blusukan di Gayamsari beberapa waktu lalu. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BLUSUKAN: Calon Wali Kota Semarang, Sigit Ibnugroho dan sang istri, Daning Arista Putri tak canggung naik becak dan berbaur dengan rakyat kecil untuk melihat kondisi nyata saat blusukan di Gayamsari beberapa waktu lalu. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Industri kecil kreatif di Kota Semarang boleh dibilang belum tergarap optimal. Masih banyak Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang sebenarnya bisa dijadikan ujung tombak perekonomian masyarakat. Seperti kerajinan kulit, produksi kulit lunpia, dan produk lain yang berkaitan dengan kuliner.

Melihat fenomena itu, calon Wali Kota Semarang nomor urut 3, Sigit Ibnugroho merasa tertantang untuk mendongkrak industri kecil tersebut, jika nantinya didapuk menjadi orang nomor satu di Kota Lunpia.

”Mari menengok tahun 1998. Ketika terjadi krisis besar-besaran, industri UMKM tetap eksis. Bahkan menjadi penyelamat merosotnya daya beli masyarakat, lantaran produk UMKM dibanderol dengan harga yang relatif murah,” ucap Sigit.

Hal itu, karena UMKM mengolah produk lokal yang tidak dipengaruhi oleh naik turunnya mata uang dolar Amerika. Sigit melihat, Semarang memiliki potensi yang besar. Calon yang diusung koalisi Partai Geindra, PAN, dan Golkar ini mencontohkan, lunpia sebagai ikon Kota Semarang masih bisa dioptimalkan. ”Kalau dilihat lebih detail, masih ada produsen kulit lunpia yang belum sejahtera,” cetusnya.