Selalu Happy, Sisihkan Rezeki Buat Kegiatan Sosial

Lebih Dekat dengan Komunitas Happy Ladies Semarang

655
SOSIALITA: Sebagian anggota Happy Ladies Semarang saat kumpul bareng di salah satu resto di Semarang. (DOKUMENTASI PRIBADI)
SOSIALITA: Sebagian anggota Happy Ladies Semarang saat kumpul bareng di salah satu resto di Semarang. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Ngumpul bareng teman memang asyik. Banyak hal yang bisa diobrolkan hingga berjam-jam tanpa jeda sambil berhaha-hihi. Suasana itu selalu menyelimuti komunitas sosialita berpredikat Happy Ladies (HL) ketika ngumpul bareng saban akhir bulan.

AJIE MAHENDRA

NAMA HL memang muncul dari atmosfer yang selalu happy atau gayeng. ”Kami adalah kumpulan ladies yang selalu happy. Tapi, bukan hepi-hepi have fun menghambur-hamburkan uang lho ya,” kata Wiwik Muliasih, salah satu punggawa komunitas yang kini digawangi 16 wanita cantik ini.

Dikatakan Lia –sapaan Muliasih– HL tergolong penyayang uang. Saban pertemuan, masing-masing anggota menyisihkan sebagian rezeki mereka untuk disumbangkan ke kaum marginal. Seperti bulan lalu, HL memberi tali asih ke salah satu panti asuhan di bilangan Gunung Pati yang dianggap tengah butuh uluran tangan.

”Memang tidak melulu berbentuk uang tunai. Kadang sembako, makanan, atau perlengkapan lain. Yang jelas, 2,5 persen harta kita kan memang milik mereka,” ucapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kaum sosialita itu terbilang selalu mengeluarkan kocek yang cukup dalam setiap pertemuan. Selain patungan kegiatan sosial dan arisan, ada juga iuran lain seperti tabungan, kas untuk piknik, hingga uang meja. Kalau tabungan, kata Lia, bisa dipinjamkan kepada anggota dengan bunga 5 persen. Tapi hasil itu akan dibagikan ke semua anggota beberapa hari sebelum Lebaran.

”Tabungan pikniknya memang tidak seberapa, karena memang dipakai setahun dua kali. Itu pun ke tempat wisata dekat-dekat Semarang kok. Jogja, Bandung, Magelang, dan lain sebagainya,” tutur Lia.

Piknik itu, lanjutnya, hanya ajang mempererat tali silaturahmi antarkeluarga sesama anggota. Ya, ketika jalan-jalan ke tempat wisata, mereka mengajak keluarga. Agar suami dan anak-anak mereka tambah teman.

Kebetulan para penghuni HL berasal dari berbagai kalangan yang memang butuh banyak jaringan untuk memuluskan bisnis. Seperti pengusaha, marketing, agen asuransi, dan lain sebagainya. Karena itu, tidak jarang mereka mendapatkan klien dari teman suami anggota lain.

Lia menceritakan, komunitas yang lahir pertengahan 2010 silam ini memang dibangun dari relasi. Dari hanya empat orang, masuk anggota lain yang rata-rata rekan kerja atau klien bisnis anggota sebelumnya. ”Untuk masuk ke HL tidak ada syarat apa-apa. Yang penting cewek dan doyan ngobrol seru,” ucapnya sambil tertawa.

Soal tempat ngumpul, HL selalu memilih kafe atau resto baru di Semarang. ”Sebenarnya tidak harus baru, sih. Tapi tempat yang belum pernah digunakan untuk ngumpul HL. Jadi muter terus. Lama-lama kan habis. Jadi, sekarang lebih banyak memilih kafe atau resto baru. Suasana baru itu kan malah bikin suasana makin seru,” tambah Lia.

Keseruan juga dibangun dengan ketentuan dresscode yang harus dipatuhi seluruh anggota ketika ngumpul. Mereka sengaja memilih yang unik-unik. Seperti pemilihan warna, hingga pernik yang harus digunakan. Seperti di pertemuan terakhir kemarin, mereka menggunakan dresscode dress warna pink-biru, lengkap dengan bando uniknya. Di situ, para punggawa HL menggunakan bando yang lucu-lucu. Ada yang berbentuk pita besar, ada juga yang bentuknya mirip telinga Micky Mouse.

Penentuan busana itu bisa dibilang membuat mereka makin kompak. Selama ini, diakui Lia, tidak pernah ada anggota yang melanggar dresscode yang ditentukan meski terkesan norak. ”Makin unik kan makin seru. Kadang pada ejek-ejekan, tapi tidak ada yang marah. Hubungan kami memang sudah seperti saudara sendiri,” ucapnya.

Saking akrabnya, mereka selalu merogoh kocek lebih untuk diberikan kepada anggota yang sedang ulang tahun atau terkena musibah. ”Kalau ada keluarga anggota HL yang sakit, kami pasti menjenguknya sambil membawa buah tangan. Sementara ketika ada yang ulang tahun, kami patungan untuk memberi kado. Pasti emas. Entah itu kalung, gelang, cincin, atau perhiasan lain,” katanya. (*/aro/ce1)