Tiga PGOT Kabur Saat Ditertibkan Satpol PP

559
PENERTIBAN GELANDANGAN : Para pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) saat ditertibkan Satpol PP Kabupaten Batang, Rabu siang (19/8) kemarin. ((TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PENERTIBAN GELANDANGAN : Para pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) saat ditertibkan Satpol PP Kabupaten Batang, Rabu siang (19/8) kemarin. ((TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG-Tiga orang pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) yang ditertibkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Batang, melarikan diri ketika hendak dimasukkan ke dalam mobil patroli milik Satpol PP di Jalan Ahmad Yani, Kota Batang, Rabu siang (19/8) kemarin.

Aksi kejar-kejaran antara pengemis, pengamen dan Satpol PP tersebut, jadi perhatian banyak orang di sekitar lokasi kejadian. Bahkan salah seorang pengamen yang mengenakan pakaian kuda lumping kabur dengan meninggalkan peralatan ngamennya.

Dari hasil operasi PGOT tersebut, akhirnya petugas Satpol PP Kabupaten Batang hanya bisa mengangkut tiga orang untuk dibawa ke kantor Satpol PP. Kemudian diserahkan ke Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrnas) Kabupaten Batang.

Namun pihak Dinsosnakertrans merasa kesulitan, ketika hendak mengirim ketiga PGOT tersebut ke Panti Rehabilitasi Samekto Karti di Pemalang. Pasalnya pihak Panti Rehabilitasi Samekto Karti menolak menampung PGOT, dengan alasan tidak ada lagi tempat.

“Dinsosnakertrans Batang sudah koordinasi dengan pihak Panti Rehabilitasi Samekto Karti di Pemalang, tapi ditolak karena tidak ada tempat penampungan bagi PGOT,” kata Kasi Pelayanan PGOT Dinsosnakertrans Kabupaten Batang, Sunaryo.

Menurutnya, PGOT yang telah ditertibkan oleh Satpol PP, harusnya dibina oleh Dinsosnakertrans. Kemudian dikembalikan ke masyarakat. “Karena itu, tiga PGOT ini akan kami kembalikan ke masyarakat, setelah kami bina selama dua hari,” kata Sunaryo.

Kasie Linmas Satpol PP, Faizin, yang memimpin razia PGOT menandaskan bahwa keberadaan PGOT di Kabupaten Batang semakin meresahkan. Bahkan sebagian PGOT kerap berada di perempatan jalan raya, khususnya di lampu traffic light untuk meminta uang dengan cara memaksa. Sebagian dari mereka berpenampilan seperti seniman jalanan dengan menggunakan atribut kuda lumping.

“Keluhan dan laporan masyarakat yang tertinggi adalah jumlah pengemis dan pengamen yang ada di perempatan lampu traffic light lalu lintas dan di Alun-Alun Kota Batang,” tuturnya.

Sementara itu, dalam razia tersebut ada 30 personel Satpol PP yang dikerahkan untuk menyisir tempat-tempat yang dianggap strategis bagi persebaran PGOT di Kota Batang. Mulai kawasan Alun-alun Batang, pantura Jalan Jenderal Sudirman, Pasar Batang, Jalan Yos Yos Sudarso, maupun di Jalan RE Martadinata. “Namun setiap kali diadakan razia, para PGOT kabur terlebih dahulu. Bahkan mereka berani melarikan diri meski sudah ditertibkan,” tandas Faizin. (thd/ida)