Sesama Jenis, Bisa Picu Banyak Penyakit

280

MENANGGAPI populasi gay yang meningkat, dokter spesialis penyakit kulit dan kelamin, dr Irwan Fahri R SpKK ini membedakan pengertian antara gay/lesbian dan banci (waria). Menurutnya, gay adalah lelaki yang orientasi seksnya mengalami penyimpangan (jiwa). Sedangkan banci (waria) adalah lelaki yang orientasi seks dan perilakunya mengalami penyimpangan, yakni jiwa bahkan tubuh, sampai rela operasi segala.

Kendati begitu, kata dr Irwan, seks yang tidak sehat akan memicu penyakit yang menyerang pasangan sesama jenis (seperti gay atau lesbian). Pasalnya, cara berhubungan seks kaum pria gay (homoseksual), biasanya dilakukan dengan seks oral dan seks anal. Kedua hal itu jenis aktivitas intim yang paling sering dilakukan.

Sedangkan kontak dengan anal, memperbesar kesempatan menularkan berbagai penyakit. Menurutnya, hal itu karena ada lebih banyak bakteri yang bersarang di bagian tersebut. “Penyakit yang menyerang pasangan pria gay biasanya adalah HIV, sifilis, hepatitis, dan infeksi chlamydia (infeksi menular seksual),” kata dr Irwan saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang melalui saluran telepon, kemarin.

Untuk menghilangkan kebiasaan diri sebagai pria gay, dr Irwan menyarankan pria gay melakukan terapi secara psikologi dan kedokteran, seperti menjauhi segala macam yang berkaitan dengan gay (homoseksual). Misalnya teman, klub, aksesoris, bacaan dan segalanya. Ini adalah salah satu faktor terbesar yang bisa membantu. “Tentunya merenungi bahwa gay masih belum diterima oleh masyarakat, terutama di Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, dr Irwan menyarankan melakukan terapi sugesti, misalnya mengucapkan dengan suara agak keras di saat sendiri. Misal, saya bukan gay dan saya suka perempuan berkali-kali serta berusaha melakukan kegiatan dan aktivitas khas laki-laki. “Bisa juga terapi hormon secara berkala dengan bimbingan dokter untuk lebih bisa menimbulkan sifat laki-laki. Tapi kejujuran sangat diperlukan untuk menyembuhkan penyakit ini. Baik fisik maupun mental yang dialami oleh pasangan gay, harus diutarakan dan punya niat untuk sembuh,” ungkapnya.

Sedangkan Kepala Bidang Informasi, Komunikasi dan Hukum, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jateng, Soeyanto mengatakan, terkadang pria gay (homoseksual) menikmati penyakit tersebut. Meski begitu, ada juga yang tersiksa dan ingin konsultasi dan berterus terang kepada dokter, tetapi malu.

“Saran saya, kaum gay atau komunitas gay segera kembali ke kodratnya. Dalam ajaran Islam, apabila ingin sembuh harus tulus berdoa dan memohon kesembuhan dan segera bertaubat kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Menurut Soeyanto segala sesuatu yang terjadi pada diri manusia adalah akibat perbuatan dan kesalahan manusia itu sendiri. Allah SWT berfirman dalam Surat As Syura:30 yang artinya dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri. “Sehingga harus disadari bahwa gay adalah dosa besar dan dilaknat Allah, maka segeralah bertaubat. Apalagi di Indonesia dilarang,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Ketua MUI Jateng, Ahmad Darodji bahwa pernikahan bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis, akan juga untuk melanjutkan keturunan. Hal ini tidak bisa dilakukan melalui pernikahan sesama jenis.

“Kendati demikian, keberadaan kaum gay tidak boleh dijauhi atau bahkan dikucilkan. Sebab, sejatinya mereka juga menderita sehingga harus diselamatkan,” katanya.

Menurutnya, banyak hal yang membuat mereka menjadi gay atau lesbian. Salah satunya adalah perlakuan terhadap mereka semasa kecil. Dalam hal ini, pemerintah juga harus memberikan perhatian. Maksudnya, membantu mereka untuk dapat lepas dari perilaku menyimpang tersebut. Apalagi, mereka melakukan hal tersebut kadang tidak sesuai kehendak sendiri.

“Oleh sebab itu, bantuan berupa konsultasi psikologi, injeksi hormonal, dan juga melalui operasi menjadi normal dapat dilakukan. Itu kalau mereka mau. Kalau tidak, apa boleh buat,” terangnya sembari menegaskan kembali bahwa keberadaan mereka tidak boleh dijauhi.

Dalam hal ini, Darodji menegaskan bahwa MUI hanya sebatas memberikan saran dan masukan kepada pemerintah. Sebab, merekalah yang memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan. Kendati demikian, ia optimistis pemerintah Indonesia tidak akan mengizinkan pernikahan sesama jenis.

“Ini tergantung kekuatan agama kita. Jika generasi penerus mendapat pendidikan agama yang baik, hal yang terjadi seperti di Amerika tidak akan terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana menanamkan kepada anak cucu kita menjadi insan cendikia,” pungkasnya. (jks/fai/ida)