Pembunuh Guru Dituntut Seumur Hidup

334
BERDARAH DINGIN : Terdakwa kasus pembunuhan terhadap guru, Zaenal Muqorobin alias Robin, 21dikawal petugas di Pengadilan Negeri Pekalongan, kemarin. Dia dituntut hukuman seumur hidup. (Hanafi/jawa pos radar semarang)
BERDARAH DINGIN : Terdakwa kasus pembunuhan terhadap guru, Zaenal Muqorobin alias Robin, 21dikawal petugas di Pengadilan Negeri Pekalongan, kemarin. Dia dituntut hukuman seumur hidup. (Hanafi/jawa pos radar semarang)

PEKALONGAN – Pelaku pembunuhan terhadap guru cantik Istanti, Zaenal Muqorobin alias Robin, 21, warga Kelurahan Bendan, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan dituntut maksimal dengan hukuman penjara seumur hidup oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Imam Fauzi. Tuntutan diajukan jaksa dalam sidang yang digelar Rabu (8/7) di Pengadilan Negeri Pekalongan.

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Masduki itu, terdakwa didampingi Penasehat Hukumnya, Suryoto SH. Jaksa Penuntut Umum dari Kejari Pekalongan, mendakwa Zaenal Muqorobin dengan pasal berlapis. Antara lain, terdakwa dinilai telah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 340 KUHP, yakni pembunuhan yang diikuti, disertai, atau didahului dengan tindak kejahatan lain.

Selain itu, terdakwa juga dijerat dengan Pasal 362 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. “Terdakwa kita tuntut secara maksimal, dengan pasal berlapis, antara lain mengenai pasal pembunuhan berencana serta tambahannya UU No 80 tentang Perlindungan Anak,” jelas Imam usai sidang.

Dia menyebutkan, dakwaan bahwa Robin telah melakukan pembunuhan berencana, antara lain ditunjukkan dengan runtutan peristiwa yang terjadi di kamar kos korban itu. “Terdakwa beberapa hari sebelumnya telah bertemu dengan korban di tempat kos itu. Begitu terdakwa mengucap Assalamualaikum kepada korban, terdakwa langsung masuk ke kamar kos korban, dan langsung mencekik leher korban,” jelasnya.

Setelah mencekik korban, menindih, dan memastikan bahwa korban sudah tidak bergerak, terdakwa Robin bergegas mengambil barang-barang berharga milik korban, seperti perhiasan, laptop, dan sepeda motor korban. Setelah itu, korban mengunci pintu kamar korban dari luar. “Jadi, setelah terdakwa berhasil melumpuhkan korban, dia mengambil barang-barang milik korban,” ujarnya.

Atas tuntutan tersebut, terdakwa diberikan kesempatan untuk melakukan pledoi. Terdakwa terlihat pasrah dengan proses hukum yang dijalaninya. Selama di persidangan, ia lebih banyak tertunduk. Keluarga korban juga tidak terlihat ada di dalam ruangan sidang, hingga proses sidang itu selesai. Baik sebelum maupun usai sidang, terdakwa juga dikawal ketat oleh anggota Sat Sabhara Polres Pekalongan Kota dan petugas Kejaksaan Negeri Pekalongan.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Istanti, 26, ditemukan tewas di kamar kosnya, di Jalan Teuku Umar, Pasirsari, Kelurahan Pasirkratonkramat, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Sabtu, 6 Desember 2014 silam. Warga Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, yang menjadi guru SD Negeri Kraton, Kota Pekalongan, itu tewas dalam kondisi sedang hamil 8 bulan.

Selain membunuh korban, pelaku juga mengambil barang-barang berharga milik korban, antara lain perhiasan berupa cincin, kalung, lalu barang lain seperti laptop dan sepeda motor. Satreskrim Polres Pekalongan Kota akhirnya berhasil mengungkap pelaku di balik kasus tersebut. Pelaku sempat buron selama enam hari, sampai akhirnya berhasil ditangkap di tempat persembunyiannya di Jakarta setelah memberi umpan mantan pacarnya. (han/ric)