Bunda Perlindungan Anak Ajak Wisata 350 Anak Yatim

366
AJAK REKREASI: Bunda Perlindungan Anak Dewi Susilo bersama anak-anak yatim saat berekreasi di Taman Wisata Marina Semarang, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AJAK REKREASI: Bunda Perlindungan Anak Dewi Susilo bersama anak-anak yatim saat berekreasi di Taman Wisata Marina Semarang, kemarin. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Di musim liburan sekolah seperti sekarang, tidak semua pelajar bisa menikmatinya. Faktor finansial bisa jadi alasan mengapa enggan mengunjungi tempat-tempat wisata. Melihat fenomena itu, Bunda Perlindungan Anak Dewi Susilo mengajak 350 anak yatim untuk bermain di Taman Wisata Marina Semarang, kemarin.

Sore itu, seluruh anak yatim memilih menikmati liburan panjang ini dengan berenang. Kegirangan anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar itu begitu khas ketika bermain air. ”Memang saya memilih mereka yang jarang bisa liburan. Jadi mungkin mereka benar-benar ingin puas bermain-main,” kata Dewi.

Dewi memang sengaja mengundang anak-anak dari 10 titik binaan Rumah Anugerah Yayasan Berkat bagi Bangsa yang jauh dari pusat kota. Sebut saja Sawah Besar, Karang Gawang, Deliksari, Pandansari, Tambak Lorok, Rusun Karangroto Lama, Rusun Karangroto Baru, Kanalsari, dan anak-anak dari lokalisasi Sunan Kuning.

Bagi Dewi, semua anak-anak punya hak yang sama untuk menikmati liburan. Terlebih berwisata bareng-bareng dengan usia mereka sehingga terasa lebih berkesan. Meski hanya setahun sekali, anak-anak juga buruh refreshing yang juga memengaruhi perkembangan emosional mereka.

”Kebetulan, hari ini (kemarin, Red) merupakan ulang tahun salah satu anaknya, Natacha ke-8 tahun. Memang ulang tahun tidak harus dirayakan dengan mewah. Justru dengan cara ini, saya bisa menularkan roh arti memberi tanpa berteori. Natacha juga tidak protes dirayakan seperti ini. Malah dia senang bisa renang ramai-ramai,” katanya.

Sementara itu, Dewi kini tengah berjuang meminta dewan agar para kaum marginal bisa mendapatkan beasiswa sekolah. Menurutnya, pendidikan merupakan pondasi utama dalam membentuk karakter seseorang. ”Di dewan kan memang sudah ada anggarannya. Paling tidak 50 siswa bisa di-back up biaya sekolahnya dengan beasiswa,” harapnya. (amh/zal/ce1)