Gunakan Nama Nyeleneh, Sebulan Sudah BEP

504
LARIS MANIS: Bayu Wijaya saat membakar sosis nyeleneh The Kentty Sausage. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
LARIS MANIS: Bayu Wijaya saat membakar sosis nyeleneh The Kentty Sausage. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Bayu Wijaya sebelumnya lekat dengan tempat hiburan malam. Namun kini dia banting setir menekuni bisnis kuliner sosis bakar. Namanya The Kentty Sausage. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

BERAGAM menu kuliner dijajakan di jalanan. Salah satunya di kawasan Taman KB, Jalan Menteri Supeno, Semarang. Berbagai macam jenis kuliner ala Indonesia, Barat, ataupun Jepang berderet menanti untuk dinikmati. Namun dari puluhan lapak kuliner di kawasan ini, ada satu yang menarik. Namanya kuliner The Kentty Sausage.

”Silakan The Kentty-nya, Mas. Ada Kentty Cemokot. Ada juga Kentty Ngecrot,” sapa sang penjual kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Merasa penasaran, koran ini pun mencoba mampir dan bertanya kuliner apakah The Kentty Sausage itu. Dengan ramah, Bayu Wijaya, penjual sekaligus pemilik usaha tersebut menjelaskan jika apa yang ditawarkan adalah sebuah sosis bakar dengan topping yang cukup unik.

”Kalau Cemokot itu rasa blackpaper. Dinamai itu, karena pedasnya nendang. Sementara Ngecrot adalah sosis yang memiliki topping keju. Ada juga yang original, yakni The Kentty Original,” jelasnya.

Usai melayani pelanggannya, pria kelahiran Semarang, 20 Mei 1986 ini menceritakan awal membuka bisnis kuliner tersebut.

Bayu mengaku, sebelumnya sempat menjadi marketing communication (Marcom) Babyface Club and Karaoke, dan Marcom Entertainment Plaza Semarang. Karena bosan dengan gemerlap tempat hiburan malam, ia mencoba tantangan baru, yakni berdagang.

”Pengin sesuatu yang menantang. Jadi mulai merintis usaha kecil-kecilan dari akhir Mei lalu. Saat itu, saya pengin bisnis sosis bakar. Biar beda dan unik, akhirnya memakai kata-kata yang nyeleneh untuk menarik pembeli,” jelasnya.

Meski baru merintis usaha, trik yang dilakukan Bayu cukup sukses. Dalam semalam, sedikitnya ia berhasil menjual hingga 60 potong sosis dengan omzet jutaan rupiah.

Dikatakan, selain namanya, kata nyeleneh lain terdapat pada jenis dan ukuran sosis yang dijual. Seperti Mini Ketty Size Doesn’t Matter dengan ukuran 10 sentimeter; Small Kentty atau Absolutly Endeeees dengan ukuran 15 sentimeter, dan Big Kentty Hmmmm dengan ukuran 21 sentimeter. I membanderol harga mulai Rp 15 ribu- Rp 25 ribu. ”Ukuran sosis sengaja dibikin nyeleneh, ya biar beda dan bikin penasaran orang,” katanya.

Ia mengungkapkan, meski banyak penjual sosis di kawasan tersebut, namun pelanggannya termasuk loyal. Terkadang ada juga pelanggan yang membawa teman untuk menikmati sosis yang dijual.

Bayu mengaku, sebenarnya dari sekian banyak penjual yang ada, hampir semua mengambil sosis dari supplier yang sama. Sehingga untuk menambahkan cita rasa, Bayu memberikan tambahan bumbu yang mirip dengan bumbu barbeque. Bumbu yang diciptakan sendiri itu terinsipirasi dari bumbu barbeque yang menyerap dalam daging saat dibakar.

”Sosis yang saya jual tidak langsung dibakar. Sebelumnya diolesi bumbu rahasia, sehingga ada cita rasa yang unik dalam sosis milik saya,” ujar bapak dua anak ini.

Bayu cukup beruntung, hanya dalam sebulan merintis usaha, modal awal yang dikeluarkan sudah kembali alias sudah break even point (BEP). Bahkan, setelah bisnisnya dikenal dan laris manis, Bayu mengaku ditawari untuk mem-frenchise-kan The Kentty. Tapi tawaran tersebut ditolaknya dengan dalih ingin membesarkan dulu usaha yang ada saat ini.

”Udah ada empat orang yang nawarin buka cabang baru, karena tergiur dengan keuntungannya. Tapi saya tolak, lantaran ingin fokus pada satu tempat dulu. Walau tak bisa dimungkiri kelak saya ingin buka cabang lagi,” katanya.

Selain nama yang unik, Bayu mengandalkan social media (socmed) untuk mempromosikan produknya. Di antaranya lewat BBM, Path, Twitter dan Instagram. ”Biar lebih dikenal, kecanggihan teknologi saya gunakan untuk memasarkan dagangan saya,” tuturnya.

Meski menuai kesuksesan, Bayu tak menampik juga menemukan sejumlah kendala dalam berbisnis. Salah satunya soal cuaca. Ya, karena berbisnis kuliner di tempat terbuka, hujan menjadi ”musuhnya.” Sebab, jika cuaca hujan dipastikan dia harus gigit jari lantaran jarang ada pencinta kuliner yang kluyuran di kawasan Taman KB.

”Kalau pesaing yang banyak, bagi saya bukan jadi kendala. Justru memacu saya untuk lebih kreatif lagi agar tidak ditinggal pembeli,” kata pemilik akun instagram kenttysausage dan Twitter @TKentty_Sausage ini. (*/aro/ce1)