Bali Holiday Akan Digugat Balik

228

KRAPYAK – Sidang gugatan biro Bali Holiday Tour and Travel kepada pengusaha salon Hj RA Dwi Rahayu Widisari, semakin memanas di Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Sidang beragendakan jawaban dari Hj RA Dwi Rahayu Widisari tersebut terlihat penggugat Sari Suryanti pemilik Bali Holiday tidak hadir dan juga tidak mewakilkan kepada kuasa hukumnya.

Kuasa hukum, Hj RA Dwi Rahayu Widisari, Ari Widiyanto menganggap, penggugat (Sari Suryanti) telah melanggar asas kepatutan dan norma masyarakat, selain itu mencederai kehormatan dan harga diri kliennya. ”Bagaimana tidak, dia itu membujuk dan menawarkan kepada klien kami pekerja seks komersial (gigolo) yang dia istilahkan ”pria-guling”. Dia juga menawarkan kepada anak klien kami yang masih di bawah umur pertunjukan penari telanjang (striptis). Benar-benar hal yang tidak pantas,” kata Ari usai sidang yang dipimpin majelis hakim, Erwin Tumpak Pasaribu, Senin (29/6).

Ari menjelaskan, karena jadwal sidang sudah disepakati dan sudah ditetapkan maka majelis hakim menganggap penggugat (Sari Suryanti) telah mangkir dan akan dikirimkan panggilan sidang kepada yang bersangkutan.

Ari juga menyebutkan, pihaknya akan menempuh upaya hukum yang diperlukan baik secara perdata dengan melakukan gugatan balik maupun secara pidana, ”Alasan karena Bali Holiday telah melanggar ketentuan pasal 8 juncto pasal 62 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kami memiliki alasan yang kuat untuk menjerat dia secara perdata dan pidana. Belum lagi perbuatan melawan hukum yang semestinya tidak pantas dilakukan oleh penyedia jasa seperti Bali Holiday,” sebutnya.

Ari juga mengklaim, pihaknya telah memiliki bukti-bukti pelunasan biaya perjalanan sesuai invoice Bali Holiday sebesar USD 3,700 dan bukti deposit dana yang ditransfer ke rekening Sari Suryanti sebesar Rp 430 juta. ”Semestinya kewajiban Sari Suryanti untuk mempertanggungjawabkan pemakaian deposit dana tersebut kepada klien kami. Untuk itu pada sidang kali ini kami justru menggugat balik Bali Holiday,” ujarnya.

Sementara itu, Hj RA Dwi Rahayu Widisari menyebutkan, sebelumnya penggugat menyarankan agar ia tidak kerepotan menukar mata uang selama perjalanan, ia diminta deposit dana sebesar Rp 430 juta untuk membiayai pengeluaran selama perjalanan. ”Jumlah itu tidak termasuk biaya perjalanan 37.000 USD yang sudah saya lunasi ke dia. Makanya di setiap tanda pengeluaran saya bubuhkan paraf untuk memeriksa kebenaran pengeluaran tersebut. Eh, sekarang paraf-paraf saya itu dijadikan dasar menggugat dengan alasan dia yang bayari semua pengeluaran tersebut,” ungkap bos salon yang akrab disapa Widisari.

Menurut Widisari, gugatan tersebut jelas fitnah dan tidak masuk akal, ia juga menyebutkan, makan dan hotel penggugat dibayari dirinya, belum lagi ia telah membayar lunas biaya 1 orang tour leader-nya. (bj/zal/ce1)

Silakan beri komentar.