Sudah 50 Tahun, Nama Diberikan Khusus oleh Bung Karno

369
SETENGAH ABAD: Tim Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola Semarang saat menggelar pertunjukan. (SMA KOLESE LOYOLA SEMARANG FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
SETENGAH ABAD: Tim Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola Semarang saat menggelar pertunjukan. (SMA KOLESE LOYOLA SEMARANG FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

Musik tradisional tidak selalu identik dengan musik zaman dulu (jadul). Buktinya, Tim Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola Semarang mampu menghadirkan salah satu warisan kesenian Indonesia itu dengan aktualisasi lagu-lagu modern. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL, Semarang

TEPAT hari ini, Sabtu (13/6) komunitas dan instrumen gamelan SMA Kolese Loyola Semarang memperingati 50 tahun atau setengah abad pemberian nama Soepra oleh Presiden RI pertama Soekarno. Sesuai rencana, malam ini tim Gamelan Soepra akan menggelar konser bertajuk Rising Soepra yang akan digelar di halaman Gedung Lawang Sewu Semarang mulai pukul 18.00–21.00.

Para pemain instrumen gamelan yang merupakan siswa-siswi SMA Kolese Loyola itu nantinya akan memainkan lagu-lagu masa kini. Di antaranya, Payphone-Maroon Five, Gangnam Style, What I’ve Done-Linkin Park, dan tak lupa lagu Indonesia, Rayuan Pulau Kelapa.

”Itulah uniknya Gamelan Soepra. Meski menggunakan alat musik tradisional, namun dapat memainkan lagu-lagu modern. Hal ini dikarenakan nada yang dihasilkan berbeda dengan gamelan Jawa tradisional lainnya. Sehingga mampu memainkan musik pop masa kini sesuai dengan tangga nadanya,” ungkap salah satu tim konser Soepra, Ch. Pranatahadi membuka percakapan dengan Jawa Pos Radar Semarang.

Pranatahadi menjelaskan, letak perbedaannya adalah pada nadanya. Nada dalam Gamelan Soepra adalah nada diatonis, sedangkan Gamelan Jawa bernada pentatonis. Karena memiliki nada diatonis, maka Gamelan Soepra ini mampu mengaransmen lagu apa pun dengan berbagai genre. Deretan not nadanya pun terdiri atas 12 tangga nada dalam satu oktaf, beberapa di antaranya adalah C, C#, D, D#, E, F, F#, G, G#, A, A#, B, lalu C. Sementara gamelan Jawa pada umumnya menggunakan nada pentatonis dengan lima jenis bunyi not yang terdiri atas Pelog (C, E, F, G, B) dan Slendro (C, D, E, G, A).

”Dengan demikian gamelan Jawa tradisional hanya bisa memainkan lagu yang terbatas. Misalnya, lagu Yen ing Tawang ana Lintang memakai pelog sedangkan Rek Ayo Rek memakai slendro,” bebernya.

Diceritakan Pranatahadi, Gamelan Soepra ini kali pertama diciptakan pada 1957 oleh Pater Henricus Constant van Deinse, SJ atau yang lebih akrab dipanggil Pater van Deinse. Nama Gamelan Soepra ini diberikan langsung oleh Presiden RI pertama Ir Soekarno saat pembukaan kongres VII Partai Katolik di Istora Senayan Bung Karno, Jakarta pada 22 Juli 1965 silam.

”Kata Soepra merupakan singkatan dari Soegijapranata. Beliau adalah pahlawan nasional dan uskup pribumi pertama yang sekaligus menjadi sahabat karib Bung Karno. Hal ini sebagai peringatan atas jasa-jasa beliau yang wafat tepat 2 tahun dari kongres itu,” jelasnya.

Pada mulanya, lanjut Pranatahadi, Gamelan Soepra hanya dimainkan pada saat karnaval saja. Akan tetapi sejak tampil di hadapan Bung Karno pada 1965, Gamelan Soepra lebih dikenal banyak orang. Beberapa tahun kemudian tepatnya pada 1988, Gamelan Soepra tampil di Candi Borobudur pada saat menyambut Ratu Juliana beserta suaminya dalam pertukaran pelajar Indonesia-Perancis.

”Presiden RI Megawati Soekarno Putri pun pernah melihat langsung pertunjukan Gamelan Soepra saat perayaan Natal Nasional di Jakarta pada 27 Desember 2003,” katanya bangga.

Pranatahadi menambahkan, Tim Gamelan Soepra SMA Kolese Loyola kembali mendapat kesempatan tampil di Natalan Nasional 2013 di Gedung Jakarta Convention Center Senayan Jakarta pada 27 Desember 2013. Kesempatan itu, menurutnya, didukung sepenuhnya oleh mantan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro. Selain itu juga didukung oleh para alumni Keluarga Eks Kolese Loyola (KEKL) komisariat Jakarta.

”Penampilan Tim Gamelan Soepra ini telah memberikan pengaruh positif pada keterlibatan sekolah dalam kegiatan keluar, sehingga ada satu aset penting budaya yang harus dilestarikan,” ujarnya yang mengaku sering menjadi bintang pada saat acara-acara internal di SMA Kolese Loyola.

Untuk dapat terus bertahan, saat ini Gamelan Soepra menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang ada di SMA Kolese Loyola. Menurutnya, banyak hal yang didapatkan ketika belajar gamelan ini. Tidak sekadar memukul alat musik saja, tetapi hal lain juga dapat ditemukan.

”Gamelan Soepra mendidik kita lebih terarah pada kecintaan akan budaya setempat yang terbuka pada budaya global, sehingga memungkinkan siswa-siswi SMA Kolese Loyola menerima keunikan masing-masing dan berekspresi kreatif yang membebaskan,” katanya. (*/aro/ce1)