Hutan Jateng Terus Berkurang

177

SEMARANG – Jateng semakin hari semakin gersang saja. Sebab luas kawasan hutan di provinsi ini semakin berkurang. Tercatat, saat ini kawasan hutan di Jateng hanya sekitar 757.250 hektare atau sekitar 22,5 persen dari total lahan. Jumlah tersebut belum sesuai dengan yang ditetapkan Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan di mana disebutkan pemerintah harus menjaga kecukupan kawasan hutan paling tidak 30 persen dari luar pulau atau daerah aliran sungai.

Wagub Jateng Heru Sudjatmoko menjelaskan, belum terpenuhinya luas kawasan hutan yang diamanatkan dalam Undang-Undang Kehutanan lantaran banyaknya lahan hutan yang digunakan untuk kepentingan umum. Salah satu contohnya adalah Waduk Kedungombo di Kabupaten Sragen, Boyolali, dan Grobogan. ”Meski sudah ada lahan penggantinya, namun lahan tersebut belum ditetapkan secara resmi. Sehingga dari sisi administratif luas hutan berkurang,” ungkapnya.

Selain alih fungsi untuk kepentingan umum, lanjut Heru, masalah lain yang membuat luas kawasan hutan cenderung turun adalah adanya konflik masyarakat dengan perusahaan swasta dan pihak Perhutani. Menurutnya, saat ini tercatat ada 44 kasus konflik lahan dan kehutanan dengan masyarakat.

”Lebih dari separuhnya merupakan konflik antara masyarakat dengan Perhutani. Sedangkan konflik masyarakat dengan swasta rata-rata merupakan konflik warisan yang telah terjadi sejak masa kolonial,” imbuhnya.

Heru menilai, untuk konflik antara masyarakat dengan Perhutani banyak terjadi akibat kurang sigapnya pemerintah dalam menetapkan lahan pengganti Perhutani. Sehingga lahan tersebut digarap oleh masyarakat dan lambat laun diklaim menjadi hak milik pribadi. ”Lahan pengganti Perhutani masih banyak yang belum berbentuk hutan. Ini yang masih menjadi kerentanan,” tandasnya. (fai/ric/ce1)