Safety Riding Center, Edukasi Aman Berkendara Sejak Dini

323
SAFETY RIDING: Chief Executive Astra Motor, Sigit Kumala (kanan), berjabat tangan dengan Dirlantas Polda DIJ, Kombes Pol Tulus Ikhlas Pamoji (tengah) saat launching Astra Motor Safety Riding Center di Jogja lalu. (ERIC IRENG FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
SAFETY RIDING: Chief Executive Astra Motor, Sigit Kumala (kanan), berjabat tangan dengan Dirlantas Polda DIJ, Kombes Pol Tulus Ikhlas Pamoji (tengah) saat launching Astra Motor Safety Riding Center di Jogja lalu. (ERIC IRENG FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)
SAFETY RIDING: Chief Executive Astra Motor, Sigit Kumala (kanan), berjabat tangan dengan Dirlantas Polda DIJ, Kombes Pol Tulus Ikhlas Pamoji (tengah) saat launching Astra Motor Safety Riding Center di Jogja lalu. (ERIC IRENG FOR JAWA POS RADAR SEMARANG)

SELAMA bertahun-tahun, kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Rendahnya perhatian masyarakat terhadap keselamatan berkendara menjadi salah satu faktor tingginya kecelakaan di jalan. Kepolisian Republik Indonesia mencatat, rata-rata tiap jam 4 nyawa melayang atau sekitar 89 orang tewas tiap harinya karena kecelakaan lalu lintas. Pada 2014 lalu, tercatat 28.260 jiwa melayang di jalan. Tahun sebelumnya, sebanyak 26.416 orang tewas. Dari data itu, mayoritas korban tewas adalah pengendara sepeda motor.

Berdasarkan data yang dilansir Polri, pada 2013 lalu dari 167.092 peristiwa kecelakaan, sebanyak 119.560 terjadi pada sepeda motor. Angka itu diikuti kecelakaan pada mobil barang sebanyak 21.335 kali, kemudian kecelakaan pada mobil penumpang sebanyak 21.304 kecelakaan, dan terakhir terjadi pada bus 4.893 kali.

Kepala Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri Irjen Pol Condro Kirono mengatakan, badan manusia tidak didesain bisa menahan kecepatan dan benturan. Karena itu, setiap terjadi kecelakaan yang melibatkan sepeda motor, risiko fatal kerap dialami pengendara sepeda motor. Ironisnya, pengguna sepeda motor kebanyakan anak muda yang belum memiliki budaya tertib berlalulintas. Hal ini terlihat dari jumlah kecelakaan berdasarkan data yang dilansir Polri pada 2014 lalu. Dari data itu tercatat, berdasarkan pendidikan, korban kecelakaan terbesar dialami siswa SMA.

Disebutkan, pada 2013, dari total 165.302 kecelakaan, korban siswa SMA sebanyak 96.472 orang, lalu tempat kedua siswa SMP sebanyak 28.479 orang, kemudian anak SD 20.593 orang. Setelah itu, dialami mahasiswa sebanyak 9.156 orang, dan sisanya kaum dewasa.
Tahun sebelumnya, siswa SMA juga menjadi korban terbanyak. Dari total 169.390 kecelakaan yang terjadi sepanjang 2012, sebanyak 103.209 korban adalah siswa SMA. Diikuti siswa SMP sebanyak 36.582 orang, kemudian murid SD sebanyak 18.632 orang, mahasiswa 10.967 orang, dan sisanya kaum dewasa.

Ia menambahkan, hasil penelitian Universitas Gadjah Mada beberapa tahun lalu menyebutkan, kerugian Gross Domestic Product (GDP) penghasilan masyarakat Indonesia secara akumulasi akibat kecelakaan sudah mencapai 2,9 persen atau setara dengan nilai Rp 206 triliun. Selain itu, kecelakaan juga menjadi pemicu terjadinya kemiskinan di keluarga Indonesia.

Berdasarkan data Polri 2014, total kerugian materi yang dihitung di lokasi kejadian kecelakaan juga cukup tinggi. Pada 2009, kerugian akibat kecelakaan di jalan raya mencapai Rp 136,28 miliar. Tahun berikutnya naik menjadi Rp 143,16 miliar. Lalu, pada 2011 kerugian mencapai Rp 286,09 miliar. Kemudian pada 2012 kerugiannya sebesar Rp 298,62 miliar, dan pada 2013 sekitar Rp 255,86 miliar. Karena itulah, kata Condro, keselamatan lalulintas harus diatasi secara konkret. Salah satunya dengan melakukan pelatihan keselamatan berkendara secara intensif. Hal itu penting untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas. “Kita perlu melahirkan perilaku tertib berlalu lintas. Sehingga terbentuk safety culture di masyarakat kita,” tuturnya.

Karena itu, ia memberi apresiasi penuh langkah Astra Motor membangun Safety Riding Center sebagai tempat pelatihan keselamatan berkendara masyarakat dari berbagai usia. “Dengan adanya Safety Riding Center, aktivitas edukasi etika tertib berlalu lintas makin lebih optimal. Ini jelas memberi pengetahuan yang berguna sekali bagi masyarakat,” ujarnya.

Chief Executive Astra Motor Sigit Kumala menjelaskan, selama satu dekade ini, pengguna sepeda motor meningkat signifikan. Hal itu terlihat dari jumlah penjualan sepeda motor setiap tahunnya yang terus meningkat. Namun, tingginya pengguna sepeda motor itu tidak dibarengi kesadaran berlalu lintas yang baik. “Kesadaran safety riding masih sangat rendah. Padahal, industri sepeda motor sudah menghadirkan fitur-fitur keselamatan di produknya,” ujar Sigit.

Karena kondisi itulah, sejak Mei tahun lalu, Astra Motor terpanggil untuk membangun sebuah tempat yang menjadi pusat pelatihan berkendara untuk semua usia. Di atas lahan seluas 1.792 meter persegi dengan bangunan sekitar 1.000 m2 di Jalan Jenderal Sudirman, Jogjakarta, dibangunlah Astra Motor Safety Riding pertama di Indonesia. “Anak TK pun bisa belajar keselamatan berkendara di sini. Kami ingin menularkan budaya aman berkendara sejak dini,” katanya.

Gedung pusat keselamatan berkendara yang menelan biaya investasi lebih dari Rp 10 miliar itu akan menjadi tempat bagi masyarakat umum dari berbagai usia dan komunitas sepeda motor Honda untuk mengenal bagaimana berkendara yang baik. Di sana, sejumlah instruktur safety riding akan memberi pelatihan kepada masyarakat secara rutin. (bis/aro)