Cacat Kaki, Ibu Lumpuh, Adik Gangguan Jiwa

225
PRIHATIN: Sumuharti menerima bantuan dari Bupati Kendal Widya Kandi Susanti, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PRIHATIN: Sumuharti menerima bantuan dari Bupati Kendal Widya Kandi Susanti, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PRIHATIN: Sumuharti menerima bantuan dari Bupati Kendal Widya Kandi Susanti, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sumuharti sekeluarga harus menerima takdir pahit. Warga Desa Karangmulyo RT 02 RW 03 Kecamatan Pegandon, Kendal itu hidup dalam keluarga yang fisiknya cacat. Seperti apa?

BUDI SETYAWAN, Pegandon

SUMURHATI mengalami cacat kaki sejak lahir. Untuk berjalan dan beraktivitas, wanita 42 tahun ini harus menggunakan tongkat penyangga sebagai penopang badan agar dapat berdiri seimbang. Sakit tersebut sudah dialaminya sejak masih kecil, tepatnya sejak ia menginjak usia 5 tahun.

Di tengah kondisi fisiknya yang cacat, setiap hari Sumuharti sebagai anak harus melayani ibunya, Bandiyah, 62 yang juga mengalami lumpuh. Ibunya hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa bisa beraktivitas apapun. Kondisi cacat lumpuh itu terjadi akibat sakit stroke yang menyerang tubuhnya sejak 2002 silam.
Sumuharti harus merawat ibunya, menyuapi dan memberi minum, serta memandikan hingga membersihkan (maaf) kotoran ibunya. Ia juga mencuci pakaian, dan memasak sendiri.

Selain merawat ibunya, Sumuharti yang serba terbatas harus juga merawat adiknya, Eko Yulianto, 37, yang mengalami sakit kejiwaan skizofrenia atau biasa disebut gila. Setiap hari, ia harus mengawasi adiknya agar tak mengamuk. Juga memberikan makan dan minum serta memandikannya.

Sumuharti bercerita, jika kondisi adiknya hilang ingatan sejak sepeninggal ayahnya dan dikeluarkan dari kerjannya di salah satu perusahaan di Kendal. Tepatnya sekitar 2005 silam, adiknya mengalami frustasi dan depresi berat yang hingga akhirnya menjadi gila.
Kondisi tersebut diperparah dengan tingkat ekonomi keluarga yang kurang mampu. Rumahnya hanya berlantai tanah, hanya ada dipan tempat tidur tanpa kasur dan meja kursi yang sudah usang dan mulai rusak.

Dia mengaku tidak memiliki penghasilan tetap. Ia hanya bisa hidup dari uluran tangan dermawan dan bantuan dari pemerintah sebesar Rp 300 ribu setiap bulan.

“Saya ya ndak bisa kerja, kondisi cacat seperti ini mau kerja apa. Untuk makan ya hanya dari bantuan pemerintah yang bisa saya andalkan setiap bulannya. Saya hanya melayani dan merawat ibu yang lumpuh dan adik yang gila,” akunya.

Praktis, hidupnya sehari-hari dalam kondisi serbaterbatas. Uang hanya cukup untuk membeli beras saja. Sedangkan untuk lauk-pauk, ia mengaku makan dengan lauk hanya jika ada rezeki lebih dari pemberian orang. “Ya, kalau ada orang memberi, saya terima, saya belikan sayur. Kalau tidak ada ya makan seadanya,” tuturnya haru.

Padahal satu sisi, Bandiyah adalah tulang punggung dari ibu dan adiknya yang sudah tidak bisa bekerja. “Saya ya hanya bisa menerima takdir saja Mas, tidak bisa kerja, tapi jadi tulang punggung keluarga. Ya disyukuri, meski kondisi fisik saya cacat, tapi masih dapat bantuan dari pemerintah,” katanya.

Bupati Kendal Widya Kandi Susanti kemarin menyambangi rumah Sumuharti. Ia memberikan bantuan sembako dan sejumlah uang. Orang nomor satu di Kendal itu mengaku miris dan prihatin melihat kondisi keluarga Sumuharti. Ia berharap, nantinya mereka sekeluarga mendapatkan jamiman sosial dan jaminan kesehatan. Sehingga Sumuharti sekeluarga bisa berobat secara layak.

Sumuharti sekeluarga selama ini belum mendapatkan jaminan kesehatan dan jaminan hidup layak seperti dana Program Simpanan Keluarga Sejahtera (PSKS). Makanya ia meminta agar Dinas Sosial melakukan pendataan ulang. “Setiap data yang masuk harus diverifikasi sehingga valid. Jangan sampai, bantuan dari pemerintah pusat tersebut salah sasaran. Kalau bisa pendataan dilakukan setiap tahun sekali. Sebab, mungkin saja yang dulunya miskin, kini sudah menjadi kaya, dan yang dulunya kaya, karena sesuatu hal, menjadi miskin,” kata Widya. (*/aro)