Bisnis Sayuran Hidroponik Sangat Prospektif

778
MENJANJIKAN: Tanpa membutuhkan lahan yang luas, Kabul Pamudji, pemilik The Farmhill di Bukitsari Semarang menghasilkan sayur-sayuran premium berkualitas baik. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)
MENJANJIKAN: Tanpa membutuhkan lahan yang luas, Kabul Pamudji, pemilik The Farmhill di Bukitsari Semarang menghasilkan sayur-sayuran premium berkualitas baik. (AJIE MH/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Bisnis sayuran berbasis hidroponik dinilai sangat prospektif. Selain menghasilkan sayur yang lebih segar dengan masa panen lebih cepat dari cara konvensional, ‘pemain’ hidroponik di Semarang juga masih bisa dihitung dengan jari. Padahal, hampir semua supermarket, minimarket, restoran, dan perhotelan sudah langganan produksi hidroponik.

Hidroponik merupakan salah satu pola tanam tanpa tanah dengan memanfaatkan lahan yang relatif sempit. Dengan rekayasa teknologi pupuk dan nutrisi, tanaman bisa berkembang lebih maksimal. Jika ditanam di green house, sayuran tidak perlu disemprot pestisida karena sudah menangkal hampir semua jenis hama.

“Praktis, hasil panen jadi lebih aman dikonsumsi karena tanpa pestisida. Keunggulan lain, hidroponik tidak butuh lahan yang luas. Cocok untuk keterbatasan lahan di daerah perkotaan,” ungkap salah satu pebisnis hidroponik di Semarang, Kabul Pamudji.

Pemilik The Farmhill di bilangan Bukitsari Semarang ini mampu menanam sekitar 8 ribu titik tanam di tanah seluas 300 meter persegi. Di dalam green house, Kabul hanya menanam sayur-sayur kelas premium seperti lettuce jenis amandine, butterhead, romance, dan cristine, juga beberapa keluarga sawi seperti pakchoy hijau, pakchoy putih, sawi putih, hingga kaylan. Baru-baru ini, dia juga menanam ratusan kalee, varian sayur yang sedang booming untuk dijadikan smoothies.

Sebagian besar sayur tersebut dijual dengan harga kisaran Rp 4 ribu-Rp 4.500 per tanaman dengan bobot 125 gram. Untuk mencapai berat tersebut, Kabul hanya butuh waktu 4 minggu saja. “Memang masa panen hidroponik lebih cepat. Biasanya hanya 4 minggu saja. Kalau di konvensional bisa sampai 45 harian,” tegasnya.

Soal rasa sayur, tambahnya, juga bisa diatur lewat pemberian nutrisi. Kabul menuturkan, sawi atau selada yang kadang mengeluarkan rasa pahit, bisa dihilangkan dengan pengaturan kocoran nutrisi hidroponik.

Melihat banyaknya kelebihan itu, Kabul yang menyebit hidroponik sebagai urban farmin, yakin akan sangat prospektif. Pasalnya, meski sudah panen ratusan kilogram, dia tetap tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Bukan hanya dari Semarang, tapi juga kota-kota besar lain yang mulai melirik lifestyle pola konsumsi sehat seperti Jakarta, Bandung,dan lain sebagainya. “Selain masih sedikit yang bermain hidroponik, meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pangan sehat menjadikan bisnis ini makin moncer. Apalagi ini bisa ditanam di perkotaan yang artinya bisa memangkas ongkos kirim karena dekat dengan pasar,” tegas Kabul. (amh/smu)