Perlu Penguatan Kaderisasi Ansor

413
*Penulis adalah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Demak, Alumnus Universitas Al Azhar Kairo, Mesir
*Penulis adalah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Demak, Alumnus Universitas Al Azhar Kairo, Mesir
*Penulis adalah Ketua PC GP Ansor Kabupaten Demak,
Alumnus Universitas Al Azhar Kairo, Mesir

Dr H Abdurrahman Kasdi, Lc, MSi

KELAHIRAN Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pasca-Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU).

Pada 1924 para pemuda yang mendukung KH Abdul Wahab –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air). Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).

Nama Ansor ini merupakan saran KH Abdul Wahab, ”ulama besar” sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian, ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta tauladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut.

Hingga kini, GP Ansor berkembang pesat. Yakni, memiliki 433 Cabang (tingkat kabupaten/kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (tingkat provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus Banser (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.

Idealnya, dalam refleksi Harlah GP Ansor ke-81 ini, Ansor hendaknya dikembangkan menjadi ajang pengaderan untuk mencetak pemimpin yang berwawasan Islami. Besarnya jumlah kaum Nahdliyin memang membuat posisi Ansor ikut terkerek menjadi wadah yang bernilai strategis. Bahkan, semenjak hadirnya masa reformasi, para kadernya pun berhamburan menjadi elite politik baru. Berbagai posisi strategis berhasil mereka raih. Akibatnya, banyak pihak yang memandang Ansor tak lebih hanya sebagai anak tangga pijakan bagi para elitenya untuk menggenggam kekuasaan politik. Pada saat posisi tertekan selama rezim Orde Baru, kader muda NU (termasuk Ansor) begitu giat berkiprah pada kegiatan perlindungan hak masyarakat.

Selama fase ini, mereka terlibat dalam berbagai jaringan aktivis sosial dan LSM, salah satunya adalah ketika para anak muda NU ini menggelar berbagai pelatihan kader. Para kiai muda pada saat itu oleh para aktivis ini mendapat pelatihan tentang penegakan hak asasi manusia (HAM). Kecenderungan yang berlangsung selama sekitar satu dekade itu harus diakui dan terus dikembangkan. Sehingga, selain bergerak pada arus politik, para pemimpin Ansor juga bergerak di luar jalur itu, misalnya menjadi intelektual atau menduduki posisi profesional di luar jabatan politik.

Optimalisasi Pengaderan
Masih banyak persoalan di Ansor yang harus segera dapat dituntaskan. Pokok masalahnya itu adalah berada pada soal proses pengaderan yang harus berjalan efektif. Mungkin bagian inilah yang harus segera dibenahi. Nah, dengan sistem kaderisasi yang bagus, maka Ansor akan mampu melakukan hal-hal yang baik dalam proses alih generasi. Harus ada terobosan. Kode aturan dalam proses perekrutan kader harus dipertajam dan dibuat secara lebih terukur melalui jenjang sistem yang jelas.

Situasi ini penting diciptakan agar keterlibatan Ansor dalam persaingan dengan OKP lain bisa dipersiapkan secara lebih matang. Hal ini bisa dilakukan asalkan setiap kader di Ansor juga siap untuk membenahi dirinya sendiri. Bila sistem pengkaderan sudah bisa berjalan lebih optimal, maka citra dan posisi Ansor secara ideal akan bisa tercapai. Selain itu, ke depan kader Ansor mau tidak mau juga harus memperkuat basis intelektualnya. Sebab, kemampuan intelektual juga menjadi prasyarat mutlak bagi seorang pemimpin bersamaan dengan faktor keterampilan dalam menggalang lobi dalam ranah berbangsa dan bernegara.

Karena itu, setidaknya, ada tiga roh yang membangkitkan agenda kaderisasi Ansor di masa yang akan datang. Pertama, mengambil spirit Nahdlatul Wathan, pendidikan dan pengaderan Ansor selalu berorientasi pada pendidikan kebangsaan yang nasionalis, dengan berpijak pada nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah. Atau dalam bahasa NU, nilai-nilai itu menjadi prinsip tawasssuth dan i’tidal (tengah-tengah), tasammuh (toleran), tawazzun (keseimbangan), dan amar ma’ruf nahi munkar.

Demikian pula, dalam setiap pengaderan, nilai-nilai moderatisme tersebut ditanamkan dalam memperkokoh ke-Ansor-an, ke-NU-an dan ke-Indonesia-an. Menjadi Ansor seratus persen, sekaligus menjadi pemuda Indonesia seratus persen. Ansor harus tampil di garda depan ketika gerakan-gerakan Islam trans-nasional menyerang nilai-nilai nasionalisme yang tertanam dalam tradisi-tradisi umat Islam, dengan modus tabdi’ (pembid’ahan) dan takfir (pengafiran).

Kedua, dengan spirit Tashwirul Afkar, Ansor terus bergerak dinamis melahirkan kader-kader pemikir, akademisi, intelektual yang akan menjadi modal pembangunan bangsa di tengah pertarungan teknologi global yang modern dan lintas teritorial, juga lintas ruang dan waktu. Ketiga, dengan roh Nahdlatul Tujjar, Ansor harus mengawal agenda kebangkitan ekonomi yang berbasis kerakyatan. Orientasi ekonomi yang liberal-kapitalistik yang selama ini dijadikan kiblat para penyelenggara negara, harus segera dihentikan, karena bertentangan dengan cita-cita NU dan para founding fathers NKRI. Ansor adalah elemen terpenting dalam memikirkan kedaulatan pangan, krisis energi, dan juga nasib buruh baik dalam dan luar negeri yang terus terdzalimi. Sekali lagi. Selamat dan sukses Harlah GP Ansor ke-81. (*)