Pengurukan Muara Perparah Pendangkalan

222
SULIT MASUK MUARA: Kapal Nelayan Pekalongan saat melewati muara Pelabuhan yang cukup dangkal karena sedimentasi semakin tinggi. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SULIT MASUK MUARA: Kapal Nelayan Pekalongan saat melewati muara Pelabuhan yang cukup dangkal karena sedimentasi semakin tinggi. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SULIT MASUK MUARA: Kapal Nelayan Pekalongan saat melewati muara Pelabuhan yang cukup dangkal karena sedimentasi semakin tinggi. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN–Pengurukan muara menjadi lahan daratan baru, memperparah sedimentasi di Pelabuhan Pekalongan. Terutama karena perubahan ujung muara yang sebelumnya di sebelah kiri ada cengkungan berbentuk L, sekarang diuruk sehingga menyebabkan pendangkalan lebih parah.

Ketua Asosiasi Pursain Indonesia (API) Kota Pekalongan, Mufid mengatakan bahwa kondisi tersebut menyebabkan kapal-kapal sulit masuk ke dalam pelabuhan, terutama yang berukuran besar. “Kami tidak tahu maksud adanya banguan tersebut, memang sebelum ada urukan baru sudah ada pendagkalan. Namun dengan menghilangnya cengkungan L di sebelah kiri, menyebabkan pendangkalan semakin parah,” ucapnya, Kamis (23/4) kemarin.

Menurutnya, dulu pemerintah kolonial Belanda membentuk corong muara seperti itu ada maksudnya. Yakni, bertujuan menahan pasir yang masuk dari laut. Namun dengan mocong muara lurus seperti sekarang, pasir laut langsung masuk ke dalam ujung muara, sehingga memperparah terjadinya pendangkalan. Akibatnya sekarang, setiap kapal yang mau masuk atau keluar harus dibantu dengan dua atau tiga kapal untuk menarik satu kapal saja.

“Untuk itu, kami harapkan dikembalikan seperti semula, agar pendangkalan tidak lebih parah. Tapi kalau memang tetap dibiarkan seperti itu, butuh dana yang besar untuk melakukan pengerukan rutin di muara pelabuhan tersebut,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Sub Divisi Usaha Pelabuhan dan Pengembangan Usaha Perindo Cabang Pekalongan, Akhmad Sahir, menerangkan bahwa pendangkalan di muara pelabuhan memang kerap terjadi. Dari berbagai faktor, selain angin barat dan timur yang membawa sedimen pasir, juga adanya sudetan sungai, berupa penggerusan lumpur dari daratan.

“Namun selama ini, pendangkalan bisa di kanan atau kiri alur muara saja. Sehingga kapal masuk bisa keluar masuk dengan mudah. Namun adanya pengurukan di muara sungai, membuat sedimen pasir dari laut memang lebih cepat ke dalam ujung muara,” jelas Sahir.

Dirinya juga membenarkan bahwa pengurukan baru di muara mempengaruhi adanya pendangkalan yang semkain parah. “Sebenarnya yang teriak-teriak adalah pengguna jasa kami. Yaitu nelayan dan pemilik kapal. Karena muara pelabuhan semakin dangkal, sehingga menyulitkan mereka dalam keluar masuk pelabuhan,” ujarnya.

Diungkapkan Sahir, terakhir Desember 2014 pihaknya bisa memasukkan kapal, tapi kini sudah tidak bisa masuk lagi. Bahkan kini nelayan mengurangi perbekalan, untuk mengurangi beban kapal saat lewat muara. “Akibatnya, banyak nelayan yang tidak bisa maksimal dalam perjalanan melaut,” katanya. (han/ida)