Setelah Bisa Memasak, Diarahkan Membuka Usaha

123
PEDULI SESAMA: Tiga penggagas Hands On Community, Ivan Hartanto, Nathanael Christian Susanto, dan Lavencia, siap memberikan pelatihan memasak secara gratis. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SESAMA: Tiga penggagas Hands On Community, Ivan Hartanto, Nathanael Christian Susanto, dan Lavencia, siap memberikan pelatihan memasak secara gratis. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEDULI SESAMA: Tiga penggagas Hands On Community, Ivan Hartanto, Nathanael Christian Susanto, dan Lavencia, siap memberikan pelatihan memasak secara gratis. (ADENNYAR WYCAKSONO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Ivan Hartanto, Nathanael Christian Susanto, dan Lavencia terjun langsung memberikan pelatihan memasak kepada masyarakat umum. Ia melakukannya lewat wadah Hands On Community. Seperti apa?

ADENNYAR WYCAKSONO

SEBELUMNYA Ivan dan Nathan adalah dua chef yang memiliki restoran ternama di Kota Semarang. Dua chef ini sudah malang melintang di dunia kuliner internasional. Keduanya sudah kenyang pengalaman. Kini, saatnya keduanya mengabdikan diri untuk mengajari masyarakat untuk membuka usaha kuliner dengan memberikan cooking class secara gratis.

Cooking class sendiri dilakukan di Istana Briliant, Semarang. Alat masak dan bahan-bahan semua disediakan gratis. Anggota Hands On Community diajari membuat masakan western dan Asia. Hands On Community sendiri terbentuk dari obrolan ringan Ivan, Nathan, dan seorang pengusaha muda bernama Lavencia yang melihat peluang usaha di bidang kuliner.

Rasa sosial ketiganya yang tinggi terhadap banyaknya orang yang masih menganggur atau orang yang ingin berwirausaha, akhirnya menggugah humanisme mereka untuk mengajari memasak secara gratis.

”Komunitas ini sebagai wadah untuk saling berbagi, dan memberikan pembalajaran secara langsung untuk memasak ataupun membuat kue. Arahnya, setelah mendapat pelatihan, anggota komunitas ini bisa membuka usaha sendiri,” kata Lavencia, penggagas komunitas Hands On Community.

Menurut Lavencia, peluang bisnis kuliner terbuka bagi semua orang. Namun belum ada wadah bagi mereka yang ingin berwirausaha. ”Di sini kami membantu untuk memberikan ilmu dalam dunia makanan. Entah itu kudapan, kue, atau makanan lain,” ujarnya.

Komunitas yang baru terbentuk pada 11 April lalu itu kini telah memiliki belasan anggota dari berbagai kalangan. Tidak hanya kalangan remaja, komunitas ini juga beranggotakan ibu-ibu rumah tangga. Saat pelatihan, semua peralatan sudah tersedia dengan standar tinggi. Pun dengan bahan-bahan juga telah disiapkan.

”Selain memasak, kami juga mengajarkan basic dalam membuat makanan. Bisnis makanan bukan hanya sekadar meraup untung, tapi segi rasa, kesehatan dan lain-lain perlu diperhatikan. Tujuannya ketika telah membuka usaha, bisnis mereka bisa tetap eksis,” tambah Chef Nathan.

Pengalaman bekerja di beberapa negara, membuat Nathan merasa resah terhadap sumber daya manusia asal Indonesia yang bekerja di luar negeri. Apalagi lulusan sekolah memasak dari sekolah terkenal di Indonesia, ternyata tidak bisa bersaing di luar negeri karena materi yang diajarkan di sekolah kurang detail. ”Kalau sekadar memasak gampang, tapi basic-nya harus ada. Kalau nggak ada, jangankan skala internasional, skala nasional saja nggak bakal sampai,” ujarnya.

Chef Ivan menambahkan, dalam memasak, segi rasa, kebersihan, dan keamanan makanan perlu diperhatikan. ”Banyak orang yang menjual gorengan, menambahkan plastik agar rasanya semakin renyah. Padahal cara tersebut sangat berbahaya bagi yang mengonsumsinya. Asumsi ke profit memang penting, tapi nyawa orang jauh lebih penting,” katanya.

Selain diajari praktik langsung, lanjut dia, anggota komunitas ini juga diminta mempraktikkannya sendiri di rumah. Para mentor akan terbuka jika ada anggotanya bertanya secara langsung maupun lewat media sosial. ”Arahnya memang ke wirausaha, tapi kalau ada yang mau latihan masak pun bisa bergabung secara gratis. Kalau yang mau usaha, kami membuka pintu lebar. Bagian mana yang bisa kami bantu,” ujarnya.

Ke depan mereka berharap komunitas ini bisa menjadi seperti sekolah kuliner dengan kurikulum yang tertata. Namun tetap pada satu tujuan membantu masyarakat untuk membuka usaha. ”Untuk bergabung tidak ada syarat apa pun, semuanya serbagratis. Bisa joint via Facebook Hands On Community, Instagram HANDSONCOMMUNITY, Twitter HOCommunity atau email hocmmunity@gmail.com.” (*/aro/ce1)