Jelang Adipura, PKL Ditertibkan

222
PENERTIBAN : Puluhan peralatan dagang dan spanduk yang ditinggal oleh pedagang kaki lima di alun-alun Batang diangkut paksa oleh Satpol PP, kemarin. (Taufik hidayat/radar semarang)
PENERTIBAN : Puluhan peralatan dagang dan spanduk yang ditinggal oleh pedagang kaki lima di alun-alun Batang diangkut paksa oleh Satpol PP, kemarin. (Taufik hidayat/radar semarang)
PENERTIBAN : Puluhan peralatan dagang dan spanduk yang ditinggal oleh pedagang kaki lima di alun-alun Batang diangkut paksa oleh Satpol PP, kemarin. (Taufik hidayat/radar semarang)

BATANG – Sejumlah pedagang kaki lima (PKL) bersitegang dengan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) saat lapak mereka di shelter alun-alun Batang ditertibkan paksa Sabtu (18/4) pagi. Penertiban dilakukan oleh Satpol PP Batang, karena akan ada penilaian kebersihan dan ketertiban kota dalam rangka meraih Piala Adipura.

Petugas juga menilai pedagang salah karena meninggalkan lapak dan spanduk dagangannya, sehingga menganggu keindahan Kota Batang. Operasi penertiban dimulai dari shelter barat dan timur Alun-Alun Batang, hasilnya Satpol menemukan banyak perlengkapan lapak dan spanduk yang dibiarkan tergeletak di luar jam operasi berdagang yakni pukul 15.00 sampai jam 22.00. Bahkan sejumlah perlengkapan, seperti meja, terpal beserta tiangnya, peralatan seperti gelas, piring, sendok, tempat dan sendok nasi, perkakas turut diamankan oleh Satpol PP dengan menggunakan mobil truk operasional.

Ghozali, 56, pedagang siomay, warga Kelurahan Proyonanggan, Kecamatan Batang, mengungkapkan dirinya tidak bermaksud meninggalkan lapak dan spanduk dagangannya di shelter alun-alun Batang. Namun karena semalam suntuk kelelahan berdagang dan hujan turun. Sehingga tidak sempat melepas lapak dan spanduk dagangannya. “Saya hanya pulang sebentar mau mandi, saat balik lapak dan spanduknya sudah tidak ada, karena dilepas dan dibawa Satpol PP,” ungkapnya.

Ghozali juga mengatakan, jika peralatan dagangnya seperti piring gelas dan lainnya ada yang rusak. Maka dirinya akan meminta Satpol PP untuk mengganti rugi. Menurutnya jika Satpol PP akan melakukan penertiban, seharusnya semua pedagang kaki lima yang ada di sekitar alun-alun Batang juga ditertibkan. “Semua pedagang kaki lima yang ada di alun-alun Batang juga ditertibkan, bukan hanya yang ada di shelter saja,” katanya dengan kesal.

Kasatpol Polisi Pamong Praja, Kabupaten Batang, Ulul Azmi, menjelaskan kegiatan penertiban yang dilakukan secara rutin tidak hanya melibatkan 20 personel anggotanya. Namun juga staf dari Disperindagkop agar SKPD terkait juga ikut memantau kegiatan penertiban dari binaannya.

“Kegiatan ini menjadi tindak lanjut atas hasil kesepakatan tim, yang telah dirapatkan bersama dengan Disperindag dan Bupati. Rapat memutuskan untuk menertibkan lapak-lapak yang ditinggalkan pedagang di shelter barat dan timur, yang ada di alun-alun Batang,” jelas Ulul Azmi.

Dia juga mengatakan apa yang dilakukan PKL secara umum telah menyalahi Perda 06 Tahun 2014, tentang Penataan dan Pemberdayaan PKL. Menurutnya Surat Edaran (SE) Disperindagkop tentang penataan PKL yang di dalamnya mengatur jam tayang dan ketentuan bongkar muat lapak, juga sudah lama disosialisasikan dan dibagikan pada setiap pedagang.

“Sesuai Surat Edaran itu, maka jam tayang PKL dimulai sore, mulai pukul 15.00 WIB sampai malam. Kedua, seluruh lapak dan perlengkapan dagang harus dengan sistem bongkar muat, tidak boleh ditinggalkan di shelter. Selain melanggar aturan, lapak-lapak itu juga mengganggu pemandangan, karena terkesan semrawut,” tegasnya. (thd/ric)