Bandungan Berpotensi Disusupi Ajaran ISIS

140
ANTISIPASI ISIS : Kapolsek Bandungan, Iptu Achmad Sugeng bersama anggotanya memasang spanduk sosialisasi anti ISIS di Bandungan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
ANTISIPASI ISIS : Kapolsek Bandungan, Iptu Achmad Sugeng bersama anggotanya memasang spanduk sosialisasi anti ISIS di Bandungan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
ANTISIPASI ISIS : Kapolsek Bandungan, Iptu Achmad Sugeng bersama anggotanya memasang spanduk sosialisasi anti ISIS di Bandungan. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

BANDUNGAN-Banyak orang luar keluar masuk wilayah Bandungan, ditengarai cukup rawan untuk disusupi kelompok ISIS. Karena itu, beragam antisipasi terus dilakukan oleh Polsek Bandungan.

Di antaranya, Polsek melakukan sosialisasi pemasangan spanduk-spanduk berisi imbauan bahayanya ajaran ISIS. Dilakukan pula deteksi dini di wilayah hukum Polsek Bandungan dan sekaligus sosialisasi langsung di masyarakat serta melakukan pendekatan kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat.

“Kami sudah melakukan deteksi dini dan belum ada temuan ajaran radikalisme termasuk ISIS. Kami sudah turun ke masyarakat dan sejumlah pondok pesantren (Ponpes) dan tidak ada indikasi ISIS di sini. Mudah-mudahan di sini tidak pernah ada ajaran seperti itu,” kata Kapolsek Bandungan, Iptu Achmad Sugeng, Kamis (9/4) kemarin.

Menurutnya, ajaran tersebut tidak sesuai untuk masyarakat yang hidup di Indonesia, itu ajaran berbahaya. “Kami sosialisasikan agar masyarakat jadi paham dan mengerti bahwa ajaran itu berbahaya. Bahkan, kami berkunjung ke sejumlah pengasuh ponpes, tadi pagi sudah ke Kyai Fat, beliau menyampaikan ajaran ISIS tidak pas di sini,” imbuhnya.

Kasi Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Semarang Taufiqurrahman mengatakan, ada kecenderungan kelompok Islam radikal merekrut pemuda untuk dijadikan anggota. Sebab pemuda masih labil secara emosional dan lemah pemahaman agamanya. Sehingga peran guru sangat penting dalam menangkal masuknya pemahaman kelompok Islam radikal tersebut.

“Masuknya Islam radikal itu bisa dari banyak sektor. Seperti dari kalangan pengajar, pedagang, siswa, jadi mereka masuk menembus lintas generasi, lintas profesi. Untuk memutus regenerasi kelompok ini, di setiap jalur pendidikan harus ada pendidikan agama. Jadi peran guru agama sangat strategis sebab mereka masuk melaui pemahaman agama,” tutur Taufigurahman. (tyo/ida)

Silakan beri komentar.