Karya Lebih Bermakna, Ada yang Ditawar Rp 15 Juta

291
DAPAT DINIKMATI : Pengunjung melihat karya perupa muda di galeri Latar Kuncung Bawuk, Mertoyudan. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
DAPAT DINIKMATI : Pengunjung melihat karya perupa muda di galeri Latar Kuncung Bawuk, Mertoyudan. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
DAPAT DINIKMATI : Pengunjung melihat karya perupa muda di galeri Latar Kuncung Bawuk, Mertoyudan. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Para pemuda yang hobi vandalisme alias mencorat-coret di area publik, bisa bebas berkreasi. Di ajang Setengah Sadar di Latar Kuncung Bawuk, mereka berkreativitas tanpa harus takut dikejar penegak perda.

Puput Puspitasari, MUNGKID

Perasaan lega, merangkul para perupa muda yang mendapatkan tempat. Mereka bebas mencorat-coret tanpa diselimuti rasa waswas dikejar-kejar Satpol PP maupun warga. Kerap dipanggil vandalisme, kini coretan mereka dihalalkan. Memenuhi ruang Latar Kuncung Bawuk, di Mertoyudan, Kabupaten Magelang, perupa muda antusias menuangkan perasaannya dalam sebuah karya.

“Kadang ada orang yang senang dan nggak senang dengan kita (vandalisme, Red), tapi nggak papalah,” kata, salah satu perupa muda dari Magelang, berinisial FA, kemarin.

Mengapa suka corat-coret di jalan? “Sebenarnya itu bentuk dari ketidakpuasan terhadap pemerintah, jadi ada yang sedikit menyinggung pemerintah. Karena kita tidak bisa ketemu langsung dengan mereka (kepala daerah, Red),” akunya.

Pemuda 19 tahun yang kini bekerja sebagai desain grafis itu meminta, agar diberikan ruang berekpresi bagi orang-orang sepertinya. Selain itu, mengubah stigma, bahwa vandalisme tidak melulu beridentik negatif.

“Harapannya, banyak yang mau memberikan tempat sama kita, agar anak-anak muda bisa lebih terarah dengan kemampuannya,” pintanya ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Sementara itu, Yudha K.N, pemilik Latar Kuncung Bawuk menuturkan, event yang bertajuk Setengah Sadar itu memiliki arti bahwa perupa muda di Magelang sudah mulai jenuh ketika mereka berproses dari jalan ke jalan dan kucing-kucingan dengan aparat penegak perda. Seolah ingin mengekspresikan perasaan dan pikirannya, namun berbenturan dengan kebersihan kota. Ajang ini berlangsung sejak 21 Maret hingga 21 April mendatang.

“Di sini mereka bebas corat-coret. Mereka juga sudah bosan hanya menulis kode-kode, sekarang apa yang mereka bisa, dituangkan di sini,” kata Yudha saat ditemui di Sumber Rejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang.

Melihat karya perupa muda tanpa grasah-grusuh, karya yang dihasilkan pun lebih bermakna. Memiliki arti yang mendalam, memiliki nilai seni, serta bisa dinikmati orang lain yang melihatnya.

“Mereka mulai sadar, bahwa jika ada ruang seperti ini mereka lebih menggali kemampuan mereka,” tambahnya sambil menunjukkan beberapa karya yang dihasilkan sekitar 100 perupa muda.

Disebutkan, event itu idenya dari para perupa muda yang ingin diakui. Dia lantas memberikan ruang dengan harapan, generasi muda dapat menyalurkan bakatnya pada jalur yang benar dan tidak bertentangan dengan norma apapun. Apalagi, ada yang merasa dirugikan.

“Harusnya, mereka merespons ruangan atau benda yang akan dijadikan objek menjadi menarik, tanpa merusaknya,” ujarnya mencontohkan vandalisme yang kerap mencoret beberapa tempat heritage, dinding milik orang lain, taman, dan area publik lainnya.

Lalu bagaimana dengan vandalisme yang merusak tempat-tempat penting itu? “Mereka korban. Artinya belum mengerti sesungguhnya street art itu seperti apa. Mereka asal corat-coret saja, dan kadang kata-katanya tidak mendidik atau tidak menyampaikan sesuatu. Nah ini yang mau dibenerin, supaya mereka bisa menggunakan bakat dan keterampilannya untuk sesuatu yang bermanfaat dan bernilai,” tuturnya.

Bahkan, hasil karya yang dipajang di galeri Latar Kuncung Bawuk sudah ada yang ditawar Rp 15 juta oleh pengunjung. Yudha juga mengakui, para perupa muda itu juga sebenarnya memiliki tanggung jawab. Pengalaman selama pameran berlangsung, mereka berjanji akan menghapus hasil karya mereka dan setiap hari membersihkan dan membereskan tempat usai menguas dinding dengan berbagai warna cat.

“Mereka baru sadar, jika melakukannya dengan cara yang baik, ternyata justru terkonsep. Ada juga yang dikerjakan bersama-sama. Bisa dikatakan, kemarin-kemarin itu mereka baru setengah sadar mencorat-coret di jalanan,” imbuhnya.
Dia berharap, ada galeri di Magelang yang mau menampung karya mereka. Terlebih pemerintah juga harus mewadahi para perupa muda agar bisa diberdayakan dengan baik sesuai kemampuan mereka. “Mereka hanya butuh diakui,” tandasnya.

Dikatakannya, perupa muda di Magelang memiliki potensi yang luar biasa. Walau ilmu yang dimiliki, hanya berbekal otodidak saja. Dalam waktu dekat ini, salah satu perupa muda akan membuat pameran tunggal yang disponsori oleh produk cat dari luar negeri. (*/lis)