Bangun Edu Religi Park di Lahan Wakaf Sultan Fatah

158
DESTINASI BARU: Penandatanganan prasasti Edu Religi Park di Pendopo Kabupaten kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DESTINASI BARU: Penandatanganan prasasti Edu Religi Park di Pendopo Kabupaten kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DESTINASI BARU: Penandatanganan prasasti Edu Religi Park di Pendopo Kabupaten kemarin. (WAHIB PRIBADI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

DEMAK-Pemkab Demak bersama Kementerian Agama (Kemenag) telah mulai memanfaatkan tanah Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) untuk dibangun Edu Religi Park atau wahana pendidikan agama. Dalam konsep destinasi wisata religi ini nanti akan ditampilkan banyak potensi sejarah masa lalu terkait tumbuhnya Islam di tanah Jawa nusantara, utamanya di zaman Walisongo dan jaringan ulama jazirah Arab dan Turki. Meski demikian, potensi tersebut juga akan ditambah dengan nuansa kerajaan nusantara mulai dari Kerajaan Kediri hingga Majapahit.

Edu Religi Park ini sedianya akan menempati lahan BKM milik Sultan Fatah seluas 11,4 hektare. Letaknya berada di sekitar terminal baru Demak atau Jalan Lingkar Selatan Kota Demak depan SMPN 1 Demak. Potensi wisata itu nantinya juga harus dikoneksikan dengan peradaban global di kawasan Asia. Rencana pembangunan Edu Religi Park ini terungkap dalam seminar nasional yang mengusung tema menggagas Demak sebagai destinasi Edu Religi Park di Pendopo Kabupaten, Jalan Kiai Singkil, kemarin.

Seminar yang digelar Bappeda Pemkab Demak, Dinas Pariwisata dan Kemenag Demak menghadirkan para pakar terkait. Yakni, Prof Dr Inayati Adrisjati M Romli (Guru Besar Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM Jogja), Prof Dr M Baiquni (Pakar Pariwisata dari UGM Jogja), Prof Dr Abdul Munir Mulkhan (Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Jogja) dan Dr Sarbini (Ahli Filsafat Pariwisata).

Bupati Dachirin Said mengungkapkan, digagasnya Edu Religi Park sebagai bagian dari mewujudkan Demak sebagai Serambi Madinah. “Sampai saat ini Demak sangat layak dijadikan sebagai pusat peradaban Islam di nusantara. Karena itu, kita kembangkan konsep yang ada ini dengan memanfaatkan tanah wakaf Sultan Fatah. Alhamdulillah semua tanah BKM tersebut sudah bersertifikat sehingga dapat dikelola sebagai wakaf produktif,”jelasnya.

Kepala Kementerian Agama (Kemenag) Demak M Thobiq mengatakan, tanah BKM siap dibangun wahana edukasi religi di atas tanah wakaf tersebut sehingga penggunaannya bisa lebih produktif.

“Kita garap potensi ini sesuai nilai spiritualitas dan peradaban, pendidikan dan religi,”kata M Thobiq yang juga menjabat sebagai Ketua BKM ini.

Dia menambahkan, bila di Jatim Park dibuat di atas lahan seluas 9 hektare, maka Edu Religi Park Demak akan dibangun di lahan seluas 11,4 hektare. Menurutnya, tanah wakaf BKM tersebut telah disertifikasi oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN). Ini setelah menunggu selama 19 tahun.

Dr Sarbini mengatakan, Edu Religi Park diharapkan tidak hanya sekadar untuk bisnis semata, namun juga bisa menjadi pusat peradaban Islam Jawa Nusantara sekaligus memperkukuh NKRI.

“Perlu ada promosi dari mulut ke mulut bukan lagi sekadar lewat pamflet,”katanya.

Dia mengatakan, Edu Religi Park harus punya objek dan daya tarik, aksesibilitas fasilitas dan pendukung lainnya. “Edu Religi Park ini sifatnya buatan manusia (man made). Di Singapura itu tidak punya tradisi budaya, tapi bisa menarik wisatawan karena daya tarik wahana buatan manusia itu,”ujar dia.

Dalam konteks ini, adanya wahana wisata seperti ini harus bisa menyejahterakan masyarakat sekitar. Karena itu, perlu ditata agar ada keseimbangan antara budaya hybrid (asli tradisional) dan modern. Dengan begitu, budaya modern tidak menggerus budaya hybrid tersebut,”katanya. (hib/aro)