Ikut Lomba di Jakarta Hanya Berbekal Alamat

385
KUALITAS SUPER: Mutaqim Hasan menunjukkan berbagai trofi kejuaraan yang bernah diikutinya. (ALFAN NURNGAIN/RADAR KEDU)
KUALITAS SUPER: Mutaqim Hasan menunjukkan berbagai trofi kejuaraan yang bernah diikutinya. (ALFAN NURNGAIN/RADAR KEDU)
KUALITAS SUPER: Mutaqim Hasan menunjukkan berbagai trofi kejuaraan yang bernah diikutinya. (ALFAN NURNGAIN/RADAR KEDU)

Awal tahun merupakan saat yang ditunggu-tunggu bagi warga Dusun Wedi Asin Desa Krasak Kecamatan Selomerto Kabupaten Wonosobo. Saat inilah warga Wedi Asin yang mayoritas petani akan panen durian. Seperti apa?

Alfan Nurngain, Wonosobo

Mutaqim Hasan selalu memiliki kesibukan tambahan ketika musim panen durian tiba. Kepala Dusun Wedi Asin ini tak mau kehilangan kesempatan mempromosikan durian asal dusun mereka ke kancah nasional.

“Durian dari kawasan Selomerto, khususnya Dusun Wedi Asin ini sudah terkenal kualitas dan cara pembibitanya yang bagus,” ujarnya.

Pria yang sudah 22 tahun dipercaya menjadi kadus ini menjelaskan, setiap ada lomba durian tingkat lokal, regional maupun nasional, ia selalu mendaftarkan durian dari Wedi Asin. Ini merupakan upaya untuk mengenalkan durian Wedi Asin ke masyarakat luas.

Perjalanan yang ditempuhnya memang tak gampang. Sekitar 6 tahun lalu ia mulai mengikuti festival-festival durian. Awalnya, di beberapa lomba durian tingkat kabupaten yang diikuti, kekalahan selalu ia dapatkan.

Kondisi ini membuat Mutaqin harus berpikir keras. Ia merasa, kurangnya pengalaman mengikuti lomba membuat hasil yang diperoleh tak sesuai harapannya.

“Saat tahun 2009 dan 2010, ikut lomba durian, dan dua kali itu pula saya kalah. Bahkan saya sempat diejek teman saya kalau durian Wonosobo tidak akan menang,” kenang bapak 3 anak ini.

Tak ingin terus-terusan kalah, setiap musim durian tiba, Mutaqin berkeliling ke kebun-kebun petani atai pedagang durian di Selomerto. Ia ingin mencari durian yang benar-benar berkualitas super dan bisa masuk nominasi dalam lomba durian. Jika menemukan durian lokal kualitas bagus, maka ia akan mencari bibit dari pohon buah tersebut untuk dikembangkan.

Tahun 2012 merupakan awal kebangkitan durian Selomerto. Saat mengikuti lomba durian tingkat Jateng dan DIJ, durian asal Wedi Asin berhasil menyabet juara pertama. “Sejak saat itu durian asal Selomerto menjadi pesaing dan mampu mengalahkan durian asal Jepara yang sudah terkenal kualitasnya.”

Sejak saat itu, Mutaqim belajar banyak dari para dewan juri tentang kriteria durian yang bisa masuk nominasi lomba. Gelar juara pun semakin banyak diraih.

Pada Maret 2013, ia kembali mengikutkan durian Wedi Asin dalam lomba yang digelar Dinas Pertanian Jawa Tengah di Semarang. Hasilnya, dua gelar sekaligus berhasil dibawa pulang. Yakni juara pertama dan ketiga.

Dan yang paling mengesankan adalah ketika ia mengikuti Festival Holtikultura tingkat nasional di Jakarta pada 2014 lalu. Bermodal nekat, ia berangkat sendirian ke Jakarta, kota metropolitan yang asing baginya. Berbekal alamat lokasi penyelenggaraan, ia datang untuk menaklukkan kompetisi tingkat nasional ini.

“Saya buta peta, bekal tipis. Tapi alhamdulillah itu semua terbayarkan dengan menjadi juara I dan membawa hadiah uang tunai Rp 10 juta,” kenangnya. Di festival ini, durian Wedi Asin berhasil mengalahkan durian-durian super lainnya dari Lampung, Binjai, Riau, Balikpapan dan lainnya.

Keberhasilan meraih juara dalam lomba durian tidak berhenti sampai di sini. Di awal Maret 2015, lagi-lagi ia berhasil merebut juara 1 tingkat Jawa Tengah. Durian Wedi Asin mendapatkan poin tertinggi dari akumulasi kategori tekstur, warna, ketebalan daging buah, rasa, aroma dan bentunya. (*/ton)