Harap Berkah, Puluhan Nelayan Larung Sesaji

239
BACA DOA : Para sesupuh membacakan doa sebelum acara larung sesaji dimulai dan dibawa ke tengah laut di Desa Celong, Kecamatan Gringsing, Kamis (26/3) siang kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BACA DOA : Para sesupuh membacakan doa sebelum acara larung sesaji dimulai dan dibawa ke tengah laut di Desa Celong, Kecamatan Gringsing, Kamis (26/3) siang kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BACA DOA : Para sesupuh membacakan doa sebelum acara larung sesaji dimulai dan dibawa ke tengah laut di Desa Celong, Kecamatan Gringsing, Kamis (26/3) siang kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BATANG–Puluhan kapal nelayan di Kecamatan Gringsing, Kamis (26/3) siang kemarin, mengadakan larung sesaji di laut Desa Celong, Kecamatan Gringsinng, Kabupaten Batang. Para nelayan berharap, agar hasil tangkapan tahun ini berlimpah dan membawa kesejahteraan.

Adapun sesaji yang dilarungkan ke tengah laut berupa, kepala sapi, hasil bumi, jajanan pasar, untuk diperebutkan oleh nelayan itu sendiri. Sebelum sesaji dilarungkan ke tengah laut, sesaji terlebih dahulu diadakan ritual dan berdoa di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Desa Celong.

Sesepuh desa membacakan doa di hadapan para nelayan. Bahkan, semua makanan yang selama ini digunakan untuk perbekalan, juga ikut didoakan agar berkah. Demikian juga dengan peralatan melaut, seperti jala, dayung hingga pancing juga ikut disertakan dalam acara larung sesaji tersebut.

Setelah dibacakan doa, makanan seperti nasi bungkus dan tumpeng dibagikan serta dimakan bersama dengan warga desa serta para nelayan. Sedangkan beberapa jajanan pasar, serta ayam hitam diikutkan dalam larung sesaji ke tengah laut. Nelayan beranggapan, jika dapat merebut sesaji yang dilarungkan, maka hasil tangkapan ikan tahun depan akan melimpah.

Wahyudin, 24,warga Desa Celong RT 23 RW 07, Kecamatan Gringsing, mengungkapkan bahwa mengikuti acara sesaji di desanya adalah wajib bagi nelayan. Menurutnya acara rebutan larung sesaji di tengah laut, disamping untuk melestarikan budaya, juga mendapatkan kesenangan tersendiri ketika berebut sesaji.

“Khusus ayam yang diperebutkan, jika dapat ayam maka hasil tangkapan akan banyak. Ayam sesaji tidak boleh disembelih, tapi harus dipelihara,” ungkap Wahyudin.

Sarjono, 56, sesepuh Desa Celong yang memimpin acara larung sesaji mengatakan bahwa acara larung sesaji kali ini dilakukan sangat sederhana, namun tidak mengurangi maknanya. Yakni meminta perlindungan kepada Tuhan Yang Esa.

Menurutnya, selama setahun terakhir ini, hasil tangkapan nelayan sangat menurun. Tidak hanya karena cuaca buruk, namun karena adanya larangan dari pemerintah, dalam menggunakan alat tertentu.

“Intinya para nelayan minta perlindungan dan keberkahan rejeki dari Tuhan, agar diberikan keselamatan ketika melaut dan diberi kemudahan ketika menangkap ikan,” kata Sarjono.

Pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI), Kabupaten Batang, Harsoyo, menandaskan bahwa acara larung sesaji di Desa Celong bertujuan untuk menjalin silaturahmi antarnelayan. Menurutnya, selama ini para nelayan jarang berkumpul, karena mempunyai kesibukan masing-masing.

“Larung sesaji lebih untuk bersilaturahmi dan tasyakuran sesama nelayan. Memang ada yang percaya dengan keberkahan dari sesaji, tapi itu keyakinan masing-masing,” tandas Harsoyo.

Sementara itu, Kasi Promosi Dinas Pariwisata dan Budaya, Kabupaten Batang, Endang, menjelaskan bahwa sebenarnya budaya larung sesaji yang dilakukan oleh nelayan, bisa dikemas sebagai acara budaya. Jika acara sesaji tersebut dilakukan lebih baik dan melibatkan banyak pihak, tidak hanya desa semata. “Kami akan kaji acara-cara tersebut. Jika dikemas dengan bagus, bisa diagendakan sebagai acara wisata budaya,” jelas Endang. (thd/ida)