Edarkan Ribuan Pil Koplo, Dua Pemuda Diringkus

152
BARANG BUKTI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti yang disita dari dua tersangka pengedar pil koplo di Mapolrestabes Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti yang disita dari dua tersangka pengedar pil koplo di Mapolrestabes Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BARANG BUKTI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono menunjukkan barang bukti yang disita dari dua tersangka pengedar pil koplo di Mapolrestabes Semarang, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Dua pemuda diringkus oleh tim Satuan Reserse Narkoba (Sat Resnarkoba) Polrestabes Semarang. Mereka diketahui mengedarkan ribuan pil terlarang berbagai macam jenis. Di antaranya masuk kategori obat jenis psikotropika, riclona zepam dan trihexphenidyl atau yang sering disebut pil koplo.

Masing-masing tersangka adalah, Septa L, 23, warga Jalan Sawojajar, Krobokan, Kecamatan Semarang Barat Kota Semarang. Dari tangan tersangka, petugas menyita barang bukti riclona zepam sebanyak 55 butir dan trihexphenidyl sebanyak 1.210 butir.

Sedangkan tersangka, Ale S, 22, warga Jalan Bukit Kencana, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, disita barang bukti 4.000 pil trihexphenidyl. ”Keduanya mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memilik izin edar,” kata Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Selasa (24/3).

Dijelaskan, tersangka ditangkap pada Senin (23/3/2015) di Jalan Sawojajar II RT 1 RW 4, Krobokan, Semarang. ”Kami menangkap tersangka Septa terlebih dulu, sekitar pukul 10.00. Setelah dikembangkan, tersangka Ale menyusul ditangkap kemudian,” kata Djihartono.

Djihartono menjelaskan, obat jenis Riclona termasuk dalam kategori obat psikotropika. Tidak boleh diedarkan. ”Tersangka Septa mengaku mendapatkan ribuan obat-obat itu dari Ale. Sedangkan Ale membeli dari seseorang yang namanya sudah kami kantongi. Bukan dari apotek,” katanya.

Dikatakannya, obat-obatan ini adalah obat yang biasa digunakan atau dikonsumsi oleh para pelaku kejahatan jalanan. ”Rata-rata pelaku kejahatan mengonsumsi obat jenis ini,” ujarnya.

Tersangka Septa mengaku kulakan pil terlarang tersebut untuk kemudian dijual secara eceran. Dijelaskan, 1 botol hexymer alias trihex per botol berisi 1.000 butir, dibeli seharga Rp 700 ribu.

”Saya jual per 15 butir Rp 15.000 atau Rp 1.000 per butir. Kalau 1 butir riklona seharga Rp 25 ribu. Saya mulai berjualan sejak Januari lalu. Hanya menjual saja, tidak pernah mengonsumsi sendiri,” katanya.

Dia mengaku tidak banyak keuntungan menjual pil trihek. Sekali jualan biasanya per hari mendapat keuntungan Rp 40 sampai Rp 50 ribu. ”Uangnya saya gunakan untuk beli susu anak,” ujar ayah satu anak itu.

Kepala Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Semarang AKBP Eko Hadi Prayitno mengatakan, tersangka Septa dijerat Pasal 197 Undang-Undang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar dan atau Pasal 62 Undang-Undang nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta. Sementara tersangka Ale dijerat Pasal 198 Undang-Undang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pidana denda Rp 100 juta. (amu/zal/ce1)