Pasangan Muda Dominasi Kasus Perceraian

268
PERCERAIAN: Warga Batang saat mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Negeri Agama Batang. (Taufik Hidayat/Radar Semarang)
PERCERAIAN: Warga Batang saat mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Negeri Agama Batang. (Taufik Hidayat/Radar Semarang)
PERCERAIAN: Warga Batang saat mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Negeri Agama Batang. (Taufik Hidayat/Radar Semarang)

BATANG- Kasus perceraian yang ditangani Pengadilan Agama Kabupaten Batang, didominasi pasangan muda usia 20 tahun ke bawah. Selain itu, berdasar data di lapangan, dari 2.383 kasus perceraian dari bulan Januari 2014 hingga Maret 2015, sebanyak 1.682 gugatan cerai diajukan oleh istri, sedangkan sisanya diajukan para suami.

Data dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdatul Ulama (LPBHNU), Kabupaten Batang, 70 persen angka perceraian tersebut didominasi oleh pasangan usia muda atau 20 tahun ke bawah. Dengan alasan suami yang tidak bertanggung jawab, tidak adanya keharmonisan dan lainnya.

”Di 2014 hingga akhir Februari 2015, kami menangani sekitar 141 kasus perceraian, baik gugat cerai maupun gugat talak. Antara Januari-Maret ini sudah ada 24 kasus yang ditangani. Dari jumlah tersebut, 70 persen adalah perceraian pasangan usia muda dengan umur 20 tahun ke bawah,” ungkap Nurul M, petugas LPBHNU Batang, Minggu (15/3) kemarin.

Nurul mengatakan, perceraian pasangan muda tersebut disebabkan banyak faktor. Seperti karena mereka awalnya dijodohkan orang tua, lalu terjadi ketidakharmonisan, ada juga yang belum siap menikah dan faktor ekonomi.

Menurutnya LPBHNU, selama ini pihaknya sering membantu proses pengurusan perceraian. Seperti pembuatan surat pengajuan perkara ke pengadilan agama, konsultasi hukum, serta bantuan hukum atau advokasi, secara gratis dengan syarat ada surat keterangan tidak mampu.

”Dari kasus yang kami tangani, ada wanita yang belum tahu perannya sebagai istri. Ini karena dia menikah muda. Atau faktor suami yang senang marah dan ada juga istri yang usianya masih sangat muda. Sehingga ketika bertengkar dengan suami, memilih pulang ke rumah orang tuanya dan tidak mau pulang ke tempat suaminya, lalu bercerai,” ujar Nurul.

Sementara itu, Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Batang, Faisol menyatakan, selama 2014 dan awal tahun 2015, perkara perceraian yang diterima PA Batang mencapai 2.383 kasus. Menurutnya perceraian disebabkan oleh banyak faktor seperti alasan ekonomi, suami yang tidak bertanggung jawab, tidak adanya keharmonisan dan lainnya. ”Untuk kasus perceraian terdiri dari cerai gugat atau perceraian yang diajukan pihak istri sebanyak 1.682 kasus. Sementara cerai talak atau perceraian yang diajukan suami 601 kasus,” tandas Faisol. (thd/zal)