Memaksimalkan Wisata Heritage Kota Lama

349
WISATA SEJARAH: Deretan bangunan tua di kawasan Kota Lama Semarang. (JOKO SUSANTO/RADAR SEMARANG)
WISATA SEJARAH: Deretan bangunan tua di kawasan Kota Lama Semarang. (JOKO SUSANTO/RADAR SEMARANG)
WISATA SEJARAH: Deretan bangunan tua di kawasan Kota Lama Semarang. (JOKO SUSANTO/RADAR SEMARANG)

SELAIN menjual desa wisata, Pemkot Semarang bisa memaksimalkan potensi Kota Lama sebagai destinasi wisata heritage. Sayangnya, kawasan peninggalan Kolonial Belanda itu tak tergarap maksimal, dan cenderung mangkrak. Diakui, sejumlah upaya revitalisasi pernah dilakukan, namun hingga kini hasilnya masih belum maksimal.

Pengurus Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2KL) Kota Semarang, Kriswandhono, mengatakan, potensi wisata Kota Lama harus melihat sisi karakter wisata heritage baik kawasannya maupun bangunan yang ada di Kota Lama. Dia membagi potensi wisata Kota Lama menjadi 3 bagian. Yakni, sejarah, penelitian, dan penanganan.

“Dari sisi sejarah, masyarakat bisa melihat dan mengerti sejarah masa lalu Kota Semarang. Untuk peneliti sebagai wahana laboratorium. Penanganaannya juga harus ekstra khusus, dalam hal ini pengelolaan dan perawatannya jangan disamakan dengan wisata lainya. Kota Lama Semarang itu luas, mulai pelabuhan sampai kawasan Pecinan,”jelasnya.

Dia mengatakan, untuk Pajak Asli Daerah (PAD) yang dihasilkan Kota Lama hingga saat ini pengelolaannya masih tergantung pengelola masing-masing pemilik tempat yang ada di wilayah tersebut.

“Tidak ada retribusi khusus, pengelolaannya kan tergantung pemilik tempat yang ada di wilayah tersebut, seperti kafe dan restoran. Namun saya yakin dengan adanya Kota Lama sangat menunjang PAD Kota Semarang,”ucapnya

Kriswandhono menjelasan, animo warga datang ke Kota Lama cukup tinggi. Kebanyakan pengunjung mengagumi keunikan bangunan kuno di Kota Lama.

“Pengunjung banyak mencari sisi ke kekunoannya dari bagunan-bangunan yang ada di wilayah itu. Mereka bisa foto, cari barang antik, dan benda-benda seni. Dalam sehari, bisa ratusan pengunjung, apalagi hari Jumat, Sabtu dan Minggu membeludak pengunjungnya,”jelasnya.

Dia mengatakan, saat ini pihaknya masih berupaya untuk bisa membebaskan kawasan tersebut dari banjir dan rob. Selain itu, pihaknya masih berusaha mewujudkan ruang-ruang terbuka untuk kegiatan positif yang ada di Kota Lama.

“Selain itu, kami mengadakan pameran dan wisata kuliner di kafe dan restoran, museum juga masih dipikirkan, dan tentunya festival rutin tahunan untuk memeriahkan Kota Lama,”katanya
Upaya lainnya, lanjut Kriswandhono, dengan meningkatkan pelestarian bangunan di Kota Lama, terutama yang sudah masuk daftar bangunan cagar budaya. Pihaknya mengakui banyak perbedaan dengan Kota Lama di Jakarta.

“Pertumbuhan Kota Lama di Semarang saya akui cukup lama, kalau dilihat sejarahnya Kota Semarang dulu kan pusat perdagangan, sementara Jakarta pusat kota,”ungkapnya

Akademisi Universitas 17 Agustus Semarang (Untag) Semarang, Vera Damayanti mengatakan, kawasan Kota Lama berpotensi sebagai wisata heritage. “Nilai jual untuk mendatangkan wisatawan itu sangat tinggi. Para wisatawan penumpang kapal pesiar yang singgah di Pelabuhan Tanjung Emas bisa langsung diajak ke Kota Lama. Keindahan bangunan Kota Lama bisa menjadi icon Semarang, seperti Gereja Blendug dan Gedung Marabunta,” kata dosen Fakultas Bahasa dan Budaya Untag Semarang ini.

Hal senada diungkapkan Ketua Komite Pemantau Program Hutan Indonesia (KPPHI) Jateng, Masykur. Menurut dia, Kota Lama sangat tepat untuk dijadikan wisata heritage. Ia menyarankan agar ruang terbuka hijau di wilayah tersebut tetap dijaga.

“Wisata heritage sangat tepat untuk Kota Lama. Yang penting wisata terbuka hijaunya tetap dijaga. Kalau bisa pohon-pohonnya ditambah lagi biar lebih asri,”usulnya. (mg21/aro)