Awalnya Kenari, Beberapa Bulan Malah Mati

375
SEMAKIN BERKEMBANG: Agus Santoso di kandang penangkaran murai batu miliknya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
SEMAKIN BERKEMBANG: Agus Santoso di kandang penangkaran murai batu miliknya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)
SEMAKIN BERKEMBANG: Agus Santoso di kandang penangkaran murai batu miliknya. (PUPUT PUSPITASARI/RADAR KEDU)

Berawal dari hobi pelihara burung, kini Agus menjadi peternak murai batu. Seperti apa keseriusannya?

PUPUT PUSPITASARI, Magelang

Kicauan burung murai batu meramaikan suasana di rumah Agus Santoso atau yang kerap disapa Yap. Burung-burung tersebut bersahutan seakan bernyanyi dan berirama.

Pria 51 tahun itu memiliki 16 kandang besar yang digunakan untuk beternak. Selain itu, dia juga punya ratusan sangkar burung dengan berbagai ukuran. Menurutnya, hobi ini bisa mendatangkan keuntungan.

Dia bercerita, sebelum kenal burung, Yap adalah penjual bakmi Jendralan di Kota Magelang. Sedikit demi sedikit keuntungannya dia simpan hingga mencapai Rp 1 juta dan digunakan membeli 3 ekor kenari. Namun, kesedihan menyelimutinya. Pasalnya, baru beberapa bulan dibeli, burung kenari mati.

“Sedih juga, keuntungan jualan untuk beli kenari malah mati,” katanya yang mengaku mendapatkan motivasi dari temannya untuk membeli kenari lagi dengan modal Rp 500 ribu.

“Setelah itu sukses. Saya bisa beli kacer juga dari keuntungan kenari,” jelasnya.

Dimulai tahun 2006, ternak burungnya makin berkembang. Barulah pada tahun 2008 dia mencoba ternak murai batu jenis Lampung dan Medan. Keuntungannya lumayan. Dari 7 pasang indukan produktif, dalam satu bulan setiap betina bisa bertelur 3-4 butir. Namun, kata dia, maksimal bisa bertelur 10 kali dalam setahun karena ada masa mabung atau pergantian bulu.

“Sekarang ini murai sedang ngetren. Harga sepasang anak bisa Rp 3-4 juta, tapi itu tergantung barangnya,” ujarnya saat ditemui di rumahnya Dusun Weru, RT1/10 , Trasan, Bandongan, Kabupaten Magelang. Kini ia juga memiliki 20 pasang kenari dan 2 pasang kacer, serta beberapa burung jenis lainnya.

Walau penghasilan dari murai lumayan besar, namun soal perawatan dikatakan cukup sulit. Paling pokok soal makanan dan minuman yang berkualitas. Selain itu juga pembersihan kandang yang dilakukan satu bulan sekali. Bila terlalu sering dibersihkan, burung malah stres.

“Makanannya jangkrik lalu kroto dan voer. Sekarang kroto per kilogramnya mencapai Rp 300 ribu. Kalau dihitung, biaya makan satu pasang murai bisa mencapai Rp 10 ribu per hari,” terangnya.

Tapi hal paling susah adalah saat penjodohan. Jika salah menjodohkan dan kurang pengawasan, maka betina yang kurang agresif bisa diserang orang murai pejantan hingga mati. Karena itulah, memelihara burung memang sedikit mengikat aktivitasnya di luar.

“Paling lama pergi ke luar dua jam. Tapi ini juga jadi kegiatan positif karena banyak menghabiskan waktu di rumah untuk merawat burung,” akunya.

Hal lain yang diperhatikan adalah cuaca. Jika terlalu panas, penetasan bisa gagal. Dia harus memberikan kroto lebih banyak karena mengandung protein tinggi yang bisa membuat badan murai lebih hangat dan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat. Itupun harus memperhitungkan takarannya, karena bisa jadi burung-burung yang bisa berekor hingga 30 centimeter itu mati kekenyangan.

Suami Rio Prananingsih itu menuturkan, murai adalah burung yang harganya cukup fantastis. Bahkan belum pernah anjlok dan justru harganya semakin tinggi dari tahun ke tahun. Apalagi, jika mental burung dan suaranya tebal dan memiliki volume yang baik serta variasi lagu yang unik. Maka harganya bisa selangit.

“Selain itu, penentu harga murai pada penampilan ekornya. Makin panjang makin bagus. Syukur-syukur ekornya makin lengkung, itu makin bagus,” tambahnya.

Yap berkata, pelanggan biasanya datang dari para penghobi. Dia tak menjual hasil penangkaran di pasaran. Sebab, dirinya ingin lebih dekat dengan konsumen dan memudahkan komunikasi pascapenjualan.
“Jadi kalau tanya-tanya, pembelinya langsung ke sini,” terangnya. (*/ton)