Arung Jeram, Karyawan Adira Tewas

351
KERJA KERAS: Anggota SAR bersama warga saat mengevakuasi korban di dasar Sungai Kreo. (ARIS TRIYONO BASARNAS)
KERJA KERAS: Anggota SAR bersama warga saat mengevakuasi korban di dasar Sungai Kreo. (ARIS TRIYONO BASARNAS)
KERJA KERAS: Anggota SAR bersama warga saat mengevakuasi korban di dasar Sungai Kreo. (ARIS TRIYONO BASARNAS)

KANDRI – Seorang karyawan PT Adira Finance Kantor Ambarawa Cabang Salatiga, tewas setelah sempat terhanyut saat mengikuti wisata tubbing rafting atau arung jeram di Sungai Kreo, Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunung Pati, Semarang, Sabtu (14/3) siang. Korban diketahui bernama Wahyu Nugroho, 31, warga Guwo RT 1 RW 2 Desa Tlogowungu Kabupaten Pati, Jateng.

Informasi yang dihimpun Radar Semarang menyebutkan, sebelum bernasib nahas, Wahyu bersama rombongan berjumlah 38 orang berangkat dari Ambarawa, Sabtu (14/3) lalu. Sesampai di lokasi arung jeram, rombongan dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengikuti wisata arung jeram menggunakan ban dalam mobil.

Kurang lebih setelah berjalan 1 km tepatnya di bawah Bendungan Jatibarang RW 3, Kelurahan Kandri, Gunungpati, tiba-tiba petaka menghampiri kelompok korban. Arus deras disertai pusaran air kencang menghantam. Seketika, korban bersama rombongan panik dan berusaha bertahan. Saat itulah, tubuh korban terpental dan terlepas dari ban yang dinaiki. Wahyu terhanyut dalam pusaran air dan hilang sejak pukul 15.30.

Salah satu rekan korban Hendrik, 38, mengaku, sempat berusaha menolong dengan meraih tangan korban. Namun karena arus sangat kuat, korban pun terlepas hingga akhirnya hilang. “Sebelum hilang, dia (korban, Red) sempat terpental dan terlepas dari ban yang dipakai,” katanya.

Upaya pencarian sempat dilakukan teman-temannya dengan hasil penemuan helm yang dipakai korban. Karena tak membuahkan hasil, akhirnya kejadian itu dilaporkan ke Badan SAR Nasional (Basarnas) Kantor SAR Semarang sekitar pukul 17.00. Tak berselang lama, sejumlah petugas SAR tiba di lokasi kejadian. Namun pencarian hingga malam tak membuahkan hasil. Pencarian akhirnya dilanjutkan Minggu (15/3) pagi.

Setelah berusaha keras, sekitar pukul 13.00, korban ditemukan warga tersangkut di cekungan bebatuan dengan kedalaman sekitar 2 meter. Namun hingga petang, tubuh korban belum berhasil dievakuasi. Tim SAR sendiri menerjunkan dua penyelam. Tapi karena kondisi di lokasi tak memungkinkan, sehingga evakuasi dihentikan. Tubuh korban sendiri memiliki berat sekitar 90 kg dengan tinggi sekitar 160 sentimeter, sehingga hal itu sempat menyulitkan proses evakuasi.

Komandan Operasional SAR, Abdul Rahman,‎ mengatakan, hingga Minggu petang pihaknya belum berhasil mengevakuasi tubuh korban. ”Kondisinya terjepit batu di dalam air. Kami masih melakukan upaya pengangkatan tubuh korban,” ujarnya.

Komandan Rescue Kantor SAR Semarang, Hardi Amanurijal, mengatakan, korban sebenarnya posisinya sudah diketahui sekitar pukul 13.00, namun medannya sangat sulit untuk mengambilnya. Korban terjepit di dalam sebuah batu besar, sementara arus airnya sangat deras. “Tidak terlalu dalam, hanya sekitar 1,5 hingga 2 meter. Namun arusnya sangat deras,” kata Hardi kepada Radar Semarang.

Keberadaan korban diketahui kali pertama oleh warga yang membantu pencarian. Saat itu warga mencari dengan menggunakan galah dari bambu dan ranting pohon. Saat mengorek-ngorek di dalam air bawah batu, kakinya menginjak bagian tubuh korban. Oleh warga tersebut, berusaha untuk diraihnya namun gagal. Tim kemudian berusaha keras untuk mengambil korban. “Kami berusaha menyelaminya, namun gagal mengevakuasinya. Kami hanya berhasil meraih tangan korban, kemudian kita ikat menggunakan tali karmantel, supaya tidak lepas hanyut terbawa air,” ujarnya.

Semakin petang, cuaca semakin tidak bersahabat. Hujan turun semakin deras, otomatis debit air semakin bertambah, dan arus semakin kuat. Sementara hari semakin gelap. Maka, tim kembali berusaha semakin keras. Tali yang diikatkan pada tangan korban kemudian ditarik. Sementara beberapa rescuer berusaha membatu dari bawah air. “Akhirnya, tubuh korban yang relatif besar itu berhasil terangkat ke permukaan. Jasadnya langsung kita masukkan ke kantong jenazah,” papar Hardi.

Selanjutnya, korban dievakuasi ke atas tebing. Kebetulan tempat ditemukannya korban di sungai yang berada di dasar tebing. Untuk mengangkat korban ke atas tebing setinggi sekitar 10 meter, sangat merepotkan Tim SAR gabungan. Jasad korban ditandu menggunakan batang kayu seadanya. Jasadnya baru bisa terevakuasi setelah 1 jam ditarik menggunakan tali secara berantai. “Selanjutnya korban dievakuasi dan dilarikan ke RSUP dr Kariadi untuk proses lebih lanjut,” ujarnya.

Menurutnya, kurang lebih 40 personel gabungan baik dari Basarnas, Koramil Gunungpati, Polsek Gunungpati, Badan Penanggungan Bencana Daerah (BPBD), PMI Kota Semarang, Ubaloka, Linmas serta masyarakat setempat turut membantu pencarian korban. “Mereka kita bagi menjadi 3 regu. Dua regu bertugas melakukan pencarian dengan menyisir sungai dengan peralatan manual. Sedangkan 1 regu lagi bertugas memantau debit air di atas,” kata Hardi.

Sedangkan untuk tim SAR, pencarian terbagi menjadi dua regu. Regu pertama menyisir di lokasi kejadiaan. Sedangkan regu kedua melakukan penyisiran darat tepatnya di daerah Dukuh Gribik. ”Kami melakukan pencarian menggunakan alat manual seperti tali, dan bambu. Kondisi arus masih deras, banyak bebatuan besar, sehingga menyulitkan untuk terjun langsung ke sungai,” ujar Hardi.

Kepala Basarnas Kantor SAR Semarang, Agus Haryono, mengatakan, pihaknya menerima informasi dari warga pada Sabtu (14/3) sekitar pukul 19.00. Satu Tim Rescue langsung diterjunkan untuk melakukan observasi lokasi kejadian. ”Kondisi arus yang deras disertai banyaknya bebatuan serta akses jalan masuk yang sulit menjadi penghambat Tim SAR saat melakukan pencarian,” katanya.

Agus Haryono mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati. Menurutnya, saat ini musim penghujan belum selesai, curah hujan masih tinggi, untuk itu supaya berhati-hati saat melintas maupun beraktivitas di sekitar aliran sungai. Dia menyebut, sejak Februari sampai sekarang, pihaknya menangani sedikitnya 24 kasus orang hanyut di sungai di seluruh Jateng dengan korban tewas sebanyak 25 orang.

Panit Reskrim Polsek Gunungpati, Agus Suseno, mengatakan, pihaknya bekerja sama dengan tim SAR serta masyarakat sekitar untuk fokus melakukan evakuasi. Terkait informasi bahwa korban tidak bisa berenang, Agus mengaku sempat menerima keterangan itu. ”Diduga tidak bisa berenang,” katanya. (amu/ris/aro/ce1)