Kedelai Impor Ikut Melambung

274
TERDAMPAK : Harga kedelai impor ikut melambung seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Kondisi tersebut membuat pengrajin tempe dan tahu kesulitan. Tampak pengrajin di Semarang sedang menggoreng tahu. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TERDAMPAK : Harga kedelai impor ikut melambung seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Kondisi tersebut  membuat pengrajin tempe dan tahu kesulitan. Tampak pengrajin di Semarang sedang menggoreng tahu. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
TERDAMPAK : Harga kedelai impor ikut melambung seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Kondisi tersebut membuat pengrajin tempe dan tahu kesulitan. Tampak pengrajin di Semarang sedang menggoreng tahu. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar membuat pengrajin tempe dan tahu gusar. Bagaimana tidak, bahan baku pembuatan tempe dan tahu berupa kedelai naik pesat dipengaruhi kenaikan dollar.

Menurut informasi yang dihimpun, sebelum nilai tukar rupiah terhadap dolar melambung, harga kedelai impor per kilogramnya sebesar Rp 7.050. Saat ini setelah nilai tukar rupiah melemah, harga kedelai di pasaran menjadi Rp 7.400 per kilogramnya. Para pengrajin sendiri enggan berpindah ke kedelai lokal lantaran kualitasnya yang jelek. “Kedelai lokal kualitasnya jelek, selain itu biji kedelai sangat kecil dan tidak bisa melar ketika dibuat tempe. Walaupun mahal, saya tetap memakai kedelai impor,” kata, Ngadino, pengrajin tempe di Daerah Mustakaweni, Kelurahan Plombokan, kemarin.

Harga kedelai yang ia beli lebih murah dibandingkan di pasaran. Lantaran pembelian kedelai ia lakukan dalam jumlah besar dan dipasok oleh salah satu distributor. ” Kalau harga seceran pasti lebih mahal, sampai Rp 8 ribu per kilogramnya,” keluhnya.

Dalam sehari, dirinya mengaku bisa menghabiskan bahan baku kedelai minimal sebesar 70 kilogram. Sementara dikala permintaan kedelai tinggi, dirinya mengaku bisa mengolah kedelai menjadi tempe sebesar 1 kuintal. Naiknya harga kedelai ini tidak serta merta membuat dirinya menaikkan harga jual tempe. Dirinya lebih memilih mengurangi isi tempe yang dijual dibandingkan menaikkan harga. “Kalau harganya masih tetap, hanya isinya dikurangi. Kalau tiba-tiba menaikkan harga, pasti pembeli kabur ,” katanya.

Terpisah, salah satu pengrajin tempe di daerah Mangkang, Khozin, 40 mengatakan tidak berani membeli bahan baku kedelai kualitas bagus karena harganya masih tinggi. Ia pun tidak berani menaikkan harga tempe yang ia produksi karena takut tidak laku. Untuk mensiasatinya, Khozin memperkercil ukuran tempe dan memakai bahan baku kedelai kualitas dua. “Biasanya saya membeli kedelai sebanyak 250 kilogram per hari, berhubung harganya naik saya hanya mampu membeli 150 kilogram kedelai per hari. Itu pun saya beli kedelai kualitas jelek dengan harga yang lebih murah,” katanya. (den/ric)