Semarang Terlalu Banyak Hotel

214
BERSAING SENGIT: Saat ini masih ada beberapa investor yang sedang membangun hotel atau apartemen di Semarang, meski tingkat okupansi cukup meragukan. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
BERSAING SENGIT: Saat ini masih ada beberapa investor yang sedang membangun hotel atau apartemen di Semarang, meski tingkat okupansi cukup meragukan. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
BERSAING SENGIT: Saat ini masih ada beberapa investor yang sedang membangun hotel atau apartemen di Semarang, meski tingkat okupansi cukup meragukan. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Menjamurnya investor yang membangun hotel di Semarang ternyata dikeluhkan oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Semarang. Di tahun ini, setidaknya akan ada 72 hotel yang berdiri di Semarang mulai dari bintang 1 hingga bintang 5.

Ketua PHRI Kota Semarang, Dedy Sumardi mengakui, sebagai Ibu Kota Jawa Tengah Semarang memiliki berbagai kelebihan di antaranya suasana yang aman dan kondusif, serta makin berkembangnya Semarang menjadi kota bisnis. Ini menjadi daya tarik para pemilik modal untuk membangun hotel di Semarang.

“Investor berlomba-lomba membangun hotel dan apartemen yang membuat persaingan antar hotel kian sengit. Tren ini sudah terjadi di Solo,” katanya kepada Radar Semarang, kemarin.

Menurut Dedy yang juga General Manager Quest hotel ini, persaingan antar hotel di kota Solo sangat mencengangkan. Banyaknya hotel membuat hotel-hotel berbintang membanting harga untuk mendapatkan tamu. “Bahkan ada kelas hotel bintang 5 menjual kamar yang harganya bersaing dengan hotel bintang 3 dan 2, kalau ini terus dibiarkan tentunya akan mematikan hotel lain dan membuat banyak hotel akan bangkrut,” ujarnya.

Selain itu, banyaknya hotel dan apartemen di Semarang tidak diimbangi dengan penjualan yang baik. Saat ini menurut dia tingkat okupansi hotel sangat lesu. Apalagi ditambah pembangunan hotel baru yang kian tahun semakin bertambah. Lesunya bisnis perhotelan sendiri juga dipengaruhi oleh aturan pemerintah yang melarang PNS untuk mengadakan rapat di hotel dan tidak mampunyai dinas terkait untuk mendatangkan wisatawan ke kota Semarang. “Sebagai kota bisnis, hotel di Semarang sebenarnya masih mengandalkan kebutuhan akan meeting dalam meningkatkan revenue hotel. Jika kebijalan meeting PNS di hotel dilarang maka otomatis ada gejolak penurunan revenue dan mempengaruhi okupansi,” tukasnya.

Anggapan pemerintah kota dengan semakin banyak hotel akan meningkatkan sektor pendapatan daerah pun dianggap salah kaprah. Menurut dirinya, PAD bisa naik jika pihak hotel bisa mendatangkan tamu. Hal tersebut tentunya tak lepas dari campur tangan Pemerintah untuk mendatangkan wisatawan ke Kota Semarang. “Semarang sering disinggahi oleh kapal pesiar, tapi mereka cenderung melancong ke kota lain dan menginap di sana bukan di Semarang. Tentunya hal ini tidak akan berpengaruh terhadap PAD ataupun okupansi dan pendapatan insan perhotelan,” keluhnnya.

Dirinya menyarankan kepada pemerintah untuk mengkaji ulang jika ada pengembang ataupun investor yang untuk membangun hotel dan apartemen di Semarang. Hal ini dikarenakan, bukan malah mendapatkan PAD yang banyak, semakin banyaknya hotel yang kian menjamur akan merugikan masyarakat sendiri. “Semarang sudah penuh dengan hotel. Kalau tidak bisa bersaing jelas akan gulung tikar. Kalau gulung tikar pengangguran akan bertambah banyak. Harus distop jika ada investor yang akan membangun hotel,” tegasnya. (den/smu)