Mantan Manajer PSISa Dituntut 4 Tahun Penjara

222
HIBAH: Mantan manajer PSISa (Salatiga), Toto Suprapto, terdakwa kasus dugaan korupsi dana bantuan hibah PSIS, saat menjalani persidangan di pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (Joko Susanto/Radar Semarang)
HIBAH: Mantan manajer PSISa (Salatiga), Toto Suprapto, terdakwa kasus dugaan korupsi dana bantuan hibah PSIS, saat menjalani persidangan di pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (Joko Susanto/Radar Semarang)
HIBAH: Mantan manajer PSISa (Salatiga), Toto Suprapto, terdakwa kasus dugaan korupsi dana bantuan hibah PSIS, saat menjalani persidangan di pengadilan Tipikor Semarang kemarin. (Joko Susanto/Radar Semarang)

MANYARAN – Mantan manajer PSISa (Salatiga), Toto Suprapto, terdakwa kasus dugaan korupsi dana bantuan hibah PSISa dituntut 4 tahun penjara, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga, Indra, SH di pengadilan Tipikor Semarang.

JPU, Indra dalam tuntutannya mengatakan bahwa terdakwa telah dijerat dengan pasal berlapis yakni pasal 2 jo 18 undang-undang nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah ke dalam undang-undang nomor 20/2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi jo pasal 55 ayat (1) KUHP. Indra juga menjerat dengan pasal 3 dan pasal 8 undang-undang yang sama. ”Menjatuhkan pidana kepada terdakwa selama 4 tahun penjara. Menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp 150 juta subsider 3 bulan penjara,” kata JPU di hadapan majelis hakim yang dipimpin oleh Gatot, Senin (2/3).

Menjatuhkan hukuman uang pengganti sebesar Rp 300 juta, lanjut JPU, Indra dengan ketentuan apabila tidak diganti sebulan setelah vonis maka harta bendanya akan disita dan dilelang. Sementara, bila hartanya tak mencukupi untuk mengganti akan dikenakan hukuman pengganti 2 tahun penjara.

Usai pembacaan tuntutan, di hadapan majelis hakim, Toto menyatakan akan mengajukan nota pembelaan (pledoi). Hal senada juga diungkapkan oleh penasihat hukumnya. ”Insya Allah, dua-duanya (PH dan terdakwa) majelis. Kami upayakan untuk mengajukan pledoi dalam satu minggu ini, yang mulia,” ujar Toto.

Penasihat hukum terdakwa, Handrianus Handyar Rhaditya mengatakan kalau akan menanggapi tuntutan JPU yang dinilai terlalu memberatkan kliennya. ”Terdakwa shock mendengar tuntutan JPU. Kami akan mengajukan pledoi terkait tuntutan tersebut. Kami rasa tuntutan tersebut terlalu memberatkan terdakwa. Sementara itu, harusnya KONI juga bertanggung jawab atas hal ini, bukan hanya terdakwa,” ujar Handrianus usai sidang. (mg21/zal/ce1)