Bisa Sekolahkan Anak, Sudah Cukup Luar Biasa

300
BUTUH KETELATENAN : Sarminto dan salah satu karyawannya sudah 40 tahun ini tetap setia dengan usaha turun temurunnya membuat perahu kecil untuk mencari ikan. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
BUTUH KETELATENAN : Sarminto dan salah satu karyawannya sudah 40 tahun ini tetap setia dengan usaha turun temurunnya membuat perahu kecil untuk mencari ikan. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)
BUTUH KETELATENAN : Sarminto dan salah satu karyawannya sudah 40 tahun ini tetap setia dengan usaha turun temurunnya membuat perahu kecil untuk mencari ikan. (MUNIR ABDILLAH/RADAR SEMARANG)

Menjadi perajin perahu adalah bagian dari pilihan hidup, kendati terhitung usaha turunan dari orangtuanya. Adalah Sarminto, 65, yang sudah 40 tahun lebih menekuninya. Sudah banyak suka dukanya. Seperti apa?

MUNIR ABDILLAH, Tuntang

TAMPAK tujuh unit perahu baru, tertelungkup sedang dijemur oleh pemiliknya. Suara ketokan palu berbunyi silih berganti. Tidak berapa lama, diikuti suara bising gergaji yang sedang membelah kayu keras. Disinilah Sarminto, 65, perajin perahu memulai usahanya. Tepatnya di Desa Sumurup, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.

Sudah sekitar 40 tahun ini, Sarminto bergelut dengan pembuatan perahu. Di umurnya yang senja, masih cukup terlatih merakit bagian demi bagian perahu kayu dagangannya. Sudah banyak suka duka yang telah ia lalui selama menggeluti kerajinan tersebut. Dari masa kejayaannya, bisa menjual 20 unit perahu per-bulan, sampai masa dukanya hanya laku 1 sampai 2 perahu perbulan sudah cukup bagus.

Kemampuannya membuat perahu, bermula dari ayahnya yang seorang seniman pembuat perahu terkenal di Desa Sumurup. Semenjak jasa pembuatan perahunya dibuka tahun 1975, hampir semua petani dan nelayan di daerahnya memesan perahu di tempatnya. Kendati permintaan terus bertambah, lambat laun diiringi pula banyak warga membuka jasa serupa. Omzet usahanya yang semula lumayan besar, akhirnya berkurang banyak. Kondisi tersebut diperparah dengan jumlah petani ikan yang semakin menurun juga, akibat pertumbuhan enceng gondok.

“Tapi saya tetap bersyukur, karena saya tahu bagaimana rasanya merintis usaha ini tidak mudah. Bisa membeli rumah dan menyekolahkan anak, itu sudah luar biasa bahagia,” katanya.

Pesanan perahu Sarminto sudah sampai Kota Semarang, Banjarnegara dan Wonogiri. Pembuatan sesuai pesanan karena beda kayu dan ukuran, harga juga berbeda. Jika perahunya kecil, harganya hanya Rp 550 ribu, medium Rp 700 ribu dan besar Rp 1,25 juta. Pesanan paling banyak adalah yang berbahan dari Kayu Duren, Suren dan Mahoni. Untuk Kayu Jati tidak ada, karena kondisi ekonomi masyarakat di sini.

“Di sini terhitung sebagai penyedia jasa pembuatan perahu paling besar, karena bahan-bahan kayunya lengkap. Bahannya kami datangkan dari daerah sekitar saja, agar bisa membantu perekonomian warga sekitar,” tuturnya.

Karena sudah terlatih, untuk satu perahu, Sarminto bersama 5 karyawannya bisa menggarap 1 sampai 2 hari. Prosesnya, kayu disesuaikan pesanan ukuran, kemudian dipasah dan dibentuk sesuai dengan keinginan pemesan. Di akhir, perahu diaspal agar tidak bocor dan dicat sesuai selera.

“Saya belajar membuat perahu, butuh proses lama. Awalnya hanya melihat ayah saya, membuat perahu. Tapi karena orang tua terus memaksa ikut membuat perahu, akhirnya bisa sendiri. Tapi tentu harus diimbangi dengan belajar telaten,” tandasnya.
Ke depan, Sarminto tidak ingin mewariskan keahliannya membuat perahu kepada keempat anaknya. Ayah dari Riyanto, 40; Suwandi 37; Sumardi, 34; dan Triyanto, 31, ini, ingin anaknya menekuni apa yang menjadi hobi dan keinginannya saja. Dirinya sadar apa yang dilakukannya membutuhkan perjuangan dan kesabaran ekstra.

“Biarlah anak-anak saya melakukan apa yang diinginkan. Yang pertama di Jakarta dan yang terakhir di Sumurup. Saya tidak tahu, jika suatu hari saya meninggal, anak saya yang di sini mau melanjutkan,” pungkasnya. (*/ida)