Ngaku Staf Menteri, Tipu Rp 1,4 Miliar

160

BATANG-Hanoko Andi Sugiri, 49, warga Dusun VII RT 03 RW 18, Desa Purwosari, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang, ditangkap Satreskrim Polres Batang, Rabu (17/2) pagi kemarin. Diduga melakukan penipuan terhadap puluhan warga yang hendak masuk CPNS tahun 2014 lalu. Akibatnya, puluhan korban menderita kerugian material sebesar Rp 1,4 miliar.

Terungkapnya modus penipuan Hanoko ini bermula dari laporan warga yang telah menyetorkan uang ke Hanoko sebesar Rp 20 juta. Uang tersebut sebagai prasyarat menjadi PNS yang ditempatkan di kantor Kejaksaan. Namun setelah uang diberikan, posisi PNS yang dijanjikan, tidak terbukti.

Hanoko dalam menjalankan aksinya mengaku sebagai Staf Khusus Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi (Men PAN-RB). Lantas mendekati beberapa warga yang mengikuti test CPNS tahun 2014 lalu. Hanoko mengaku mampu memasukkan warga yang mengikuti test CPNS, bisa langsung diterima menjadi PNS dengan membayar sejumlah uang.

Namun setelah CPNS tahun 2014 diumumkan, sejumlah warga yang telah menyetorkan uangnya antara Rp 20 juta hingga Rp 140 juta, tidak satupun yang diterima menjadi PNS sebagaimana yang dijanjikan Hanoko semula.

Hingga Rabu (17/2) siang kemarin, sudah ada 28 korban yang melapor ke Satreskrim Polres Batang. Sebagian besar adalah pegawai Pemkab Batang yang belum diangkat menjadi PNS. Mereka mengaku sudah menyetorkan uang ke Hanoko antara Rp 20 juta hingga Rp 120 juta sebagai uang muka.

“Hanoko juga mengaku bisa memindahkan penempatam putra-putri korban calon CPNS di berbagai instansi di seluruh wilayah Indonesia. Modusnya dia meminta uang muka dan dijanjikan pasti lulus test CPNS 2014,” kata Kasatreskrim AKP Hartono mewakili Kapolres AKBP Widi Atmoko.

AKP Hartono juga menjelaskan bahwa dari informasi beberapa korban penipuan tersebut, salah satu korban yang sudah menyetorkan uang sampai Rp 120 juta, agar anaknya dapat diterima di Kementerian Keuangan. Ada juga yang dijanjikan menjadi PNS guru TK di Kabupaten Lamandau, dan perawat di Provinsi Kalimantan Tengah dengan menyetor uang sebesar Rp 100 juta.

Dijelaskan, Hanoko mematok harga menjadi PNS dengan ijazah SMA/D3, uang muka Rp 160 juta dan S1 Rp 180 juta. Untuk kesediaannya, korban harus menyetorkan uang muka Rp 20 juta. Kepada korbannya, Hanoko mengaku bisa memasukkan putra-putri korban, di berbagai instansi mulai guru, perawat, pegawai kejaksaan sebagai petugas keamanan, petugas bibit maupun ternak.
Bahkan dari 28 korban, tujuh di antaranya dijanjikan langsung menjadi PNS dengan jalur khusus, dengan syarat menyetor uang Rp 100 juta-Rp 120 juta. Sedangkan yang mengikuti tes antara Rp 40 juta-Rp 50 juta.

Fahrozi, 52, salah satu korban penipuan mengatakan bahwa setelah Hanoko menerima uang penuh dan setelah ditunggu-tunggu tidak ada surat panggilan dari instansi yang bersangkutan, sesuai yang dijanjikan Hanoko, akhirnya dilaporkan ke Polres Batang. “Meski demikian, Hanoko masih sering datang ke Batang, karena memiliki istri muda di Kecamatan Tulis,” kata Fahrozi.

Dari laporan beberapa warga dan korban, akhirnya berdasarkan keterangan dan ciri-ciri tersangka, jajaran Satreskrim melakukan penyelidikan. Setelah ditunggu selama beberapa hari, akhirnya tersangko Hanoko muncul di rumah istri mudanya.

Agar buruannya tidak melarikan diri, AKP Hartono dan KBO Satreskrim Iptu Haryanto dan bersama anak buahnya mengepung rumah tersebut. Yakni, di selatan jalur pantura Alas Roban selama semalam suntuk. Begitu pintu dibuka, polisi langsung masuk ke rumah tersebut dan langsung menangkap tersangka beserta barang bukti yang disita, yakni mobil Honda CRV.

“Penangkapan tersangka tidak lepas dari peran serta masyarakat dalam membantu tugas polisi. Bagi masyarakat yang merasa ditipu oleh Hanoko, segera melapor ke Saterskrim. Kami masih mendalami dan mengembangkan pengakuan tersangka, terkait aliran uang yang mencapai Rp1,4 miliar lebih,” tegas AKP Hartono. (thd/ida)