Siswa Miskin Butuh Orang Tua Asuh

297
BUTUH ULURAN TANGAN : Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik, Rudi Santosa saat paparan terkait GNOTA dalam rakor, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
BUTUH ULURAN TANGAN : Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik, Rudi Santosa saat paparan terkait GNOTA dalam rakor, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
BUTUH ULURAN TANGAN : Staf Ahli Bupati Bidang Hukum dan Politik, Rudi Santosa saat paparan terkait GNOTA dalam rakor, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Anak yang tidak mampu dari sisi ekonomi sangat membutuhkan perhatian dan bantuan para pejabat, kalangan pengusaha maupun masyarakat. Ini diperlukan supaya pendidikan mereka tidak putus atau pupus ditengah jalan. Karena itu, peran ketiga elemen tersebut sangat dinantikan, termasuk di Demak.

Staf Ahli Bupati Bidang Politik dan Hukum, Rudi Santosa mengatakan, tanpa adanya uluran tangan dari para dermawan, tentu masa depan anak-anak tidak mampu bisa terbengkalai. Mereka mestinya merelakan diri untuk menjadi orang tua asuh bagi anak-anak tersebut. Menurutnya, sebetulnya pemerintah melalui Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA) telah berupaya mengatasi masalah pendidikan anak kurang mampu itu dengan mendukung pelaksanaan program wajib belajar SD 9 tahun. “Program ini dipayungi Inpres RI Nomor 1 Tahun 1994 tentang wajib belajar pendidikan dasar. Berdasarkan Inpres itu, anak-anak usia 7-15 tahun wajib mengikuti pendidikan dasar disatuan pendidikan milik pemerintah atau masyarakat dan swasta hingga lulus SD/MI serta SLTP,” katanya disela rapat koordinasi GNOTA di ruang Bina Praja, kemarin.

Tapi faktanya bahwa tidak semua orang tua yang memiliki anak usia 7-15 tahun itu mampu secara ekonomi. Ini harus menjadi perhatian kita semua. Disinilah GNOTA berperan. Dalam kesempatan itu, Rudi mencoba memberikan contoh betapa sulitnya anak yang kesulitan ekonomi saat bersekolah. Ini seperti dialami mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan yang ketika kecil kesulitan membeli sepatu untuk sekolah. “Hingga akhirnya muncul buku novel Pak Dahlan Iskan yang berjudul Sepatu Dahlan. Disitu, digambarkan betapa susahnya kondisi ekonomi Pak Dahlan sehingga mau beli sepatu saja sulit terwujud. Tapi, dalam perjalanan hidupnya Pak Dahlan ternyata mampu mengembangkan ratusan surat kabar dibaawah bendera Jawa Pos Group. Ini luar biasa,” imbuhnya.

Dia juga menyontohkan (alm) Bupati Tafta Zani yang ternyata gemar dengan sandal lily. Sandal yang dipakai Tafta ketika masih hidup, mengingatkan yang bersangkutan ketika saat remaja kesulitan membeli sandal tersebut. Kisah ini ditulis Rudi dalam buku Tafta Zani tokoh pembangunan di Demak. Di Kabupaten Demak, anak sekolah dasar kelas 1-6 yang perlu mendapatkan perhatian mencapai 94.933 anak dan pelajar SMP kelas 7-9 sebanyak 25.946 anak. Terkait hal ini, Bupati Dachirin Said mendorong semua pihak yang memiliki kemampuan ekonomi agar menyisihkan sebagian kecil rejekinya, termasuk untuk anak-anak kurang mampu.

“Sekecil apapun rejeki yang kita terima patut disyukuri. Namun, akan lebih baik lagi jika kita mau berbagi dengan yang lain. Sisihkan sedikit untuk saudara kita. Insya Allah yang kita miliki barokah,”ujar Bupati.

Kepala Dinas Pengelolaan Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) Pemkab Demak, Siti Zuarin mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjadi orang tua asuh baik individu maupun organisasi mitra. Selain itu, meningkatkan cakupan bantuan anak asuh yang miskin serta meningkatkan kualitas dan validitas data anak asuh dan orang tua asuh. “Kita bangun pola kemitraan,”ujarnya. (hib/fth)