Jelang Sincia, Manisan Kiamboe Laris Manis

614
KHAS IMLEK: Mendekati Imlek camilan tionghoa makin laris. Seperti manisan kamboe, salak kering, mangga pedas, pala, lie kam, dan lain sebagainya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
KHAS IMLEK: Mendekati Imlek camilan tionghoa makin laris. Seperti manisan kamboe, salak kering, mangga pedas, pala, lie kam, dan lain sebagainya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)
KHAS IMLEK: Mendekati Imlek camilan tionghoa makin laris. Seperti manisan kamboe, salak kering, mangga pedas, pala, lie kam, dan lain sebagainya. (NURCHAMIM/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Mendekati tahun baru Imlek, camilan khas Tiongkok makin laris manis. Tidak hanya kaum Tionghoa, khalayak umum pun ikut-ikutan memborong panganan tersebut. Seperti manisan kamboe, salak kering, mangga pedas, pala, lie kam, dan lain sebagainya.

Beragam manisan tersebut memang ikonnya perayaan Sincia, layaknya kue kering menjelang Lebaran. Hanya saja, camilan ini lebih ringan dan murah meriah. Harga yang dipatok berkisar antara Rp 8.500-Rp 10 ribu per ons. “Yang paling laris adalah varian kiamboe. Dari kiamboe super, putih, atau merah. Hampir semua pengunjung memilih varian itu. Salak kering juga cukup diminati,” ungkap Umi Kuslum, salah satu petugas Toko Kumala di bilangan Pasar Semawis.

Dibanding hari biasa, penjualan menjelang Sincia ini meningkat sekitar 50 persen lebih. Bahkan mereka yang sudah berlangganan jadi sering memborong manisan-manisan yang ditawarkan.

Sementara itu, Lila Kusuma, salah satu kostumer yang berdomisili di Kranggan mengaku, rasanya kurang lengkap merayakan Imlek tanpa ngemil manisan. Kiamboe dianggap sebagai kudapan spesialnya. “Selain kiamboe, manisan cermai dan lie kiam kering juga enak. Kebetulan papa dan mama punya selera masing-masing. Jadi ini sekalian membelikan mereka,” ungkapnya kepada Radar Semarang, kemarin.

Senada dengan Dodit Hermawan. Pria berdarah Jawa ini mengaku getol dengan manisan. Selain dianggap nikmat, juga murah meriah. Cocok jadi peneman sambil nonton televisi. “Meski makanan Cina, yang beli kan tidak harus orang Cina,” katanya. (amh/smu)