Antisipasi Bencana, Digelontor Rp 9 M

266

KAJEN-Dinas PSDA dan ESDM Kabupaten Pekalongan menyiapkan anggaran Rp 9 miliar untuk mengatasi bencana banjir dan rob. Dana yang disiapkan pada 2015 tersebut, bakal digunakan untuk revitalisasi tanggul, pengamanan pantai dan perbaikan saluran irigasi.

Kepala Dinas PSDA dan ESDM, Bambang Pramukanto mengatakan bahwa masih banyak titik rawan bencana banjir dan rob. Di antaranya adalah talud Sungai Winong, perbatasan Desa Purwodadi dan Gebangkerep Kecamatan Sragi yang jebol, Kamis (5/2) malam lalu.

“Di Sungai Winong itu terdapat sejumlah titik rawan jebol. Di antaranya daerah Bokong Semar di Desa Purwodadi, kemudian talud di Desa Sipacar, Mulyorejo dan Wonokerto,” terangnya, kemarin.

Dipaparkannya, untuk daerah Bokong Semar Sungai Winong, sudah diluruskan. Namun tetap tidak bisa menampung debit air, jika curah hujan tinggi. Bukan hanya itu, irigasi di Desa Jeruksari Kecamatan Tirto juga perlu perbaikan. Sebab, ketika terjadi hujan, aliran air di sungai tidak bisa mengalir.

Bambang membeberkan, Rp 9 miliar yang dianggarkan tersebut berasal dari APBD 2015 senilai Rp 6 miliar. Sedangkan sisanya, Rp 3,13 miliar berasal dari DAK (dana alokasi khusus) APBN 2015. “Salah satu penyebab banjir, karena adanya pendangkalan sungai dan curah hujan yang tinggi. Jadi sebetulnya memang perlu normalisasi sungai,” terangnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Sudjatmiko menambahkan bahwa seluruh warga Kabupaten Pekalongan terutama di lokasi rawan diminta selalu waspada. Sebab curah hujan diperkirakan masih akan terjadi hingga bulan Maret. “Kami mengimbau warga agar selalu waspada. Sewaktu-waktu, banjir atau longsor bisa saja terjadi. Ini curah hujan masih tinggi, mungkin sampai Maret,” ungkapnya.

Pada Jumat (6/2) lalu, banjir merendam Jalan Bahurekso Dukuh Sibedug, Desa Kebonagung Kecamatan Kajen. Sempitnya saluran air disebut-sebut sebagai penyebab banjir yang menggenang di permukiman warga hingga ke jalan raya.

Menurut keterangan warga, penyebab terjadinya banjir adalah proyek pembangunan trotoar di atas saluran air yang tidak tepat. “Tiap turun hujan pasti terjadi banjir, karena saluran pembuangan air terlalu kecil. Kalau dulu, sebelum ada trotoar, kami mudah mengatasi karena mungkin aliran air tersumbat sampah. Sekarang tertutup trotoar,” kata Warjun, 50, warga Dukuh Sibedug Desa Kebonagung, Kecamatan Kajen. Warga pun berharap, pemerintah segera mengatasi persoalan itu, sehingga jalan tak lagi menjadi langganan banjir. (hil/ida)