4 Sekolah Raih Penghargaan Adiwiyata Lingkungan

792
Kepala SMPN 1 Demak Abdul Hanif menerima penghargaan sekolah Adiwiyata Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup yang disampaikan Bupati Dachirin Said usai upacara di halaman Setda Demak, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
Kepala SMPN 1 Demak Abdul Hanif menerima penghargaan sekolah Adiwiyata Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup yang disampaikan Bupati Dachirin Said usai upacara di halaman Setda Demak, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)
Kepala SMPN 1 Demak Abdul Hanif menerima penghargaan sekolah Adiwiyata Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup yang disampaikan Bupati Dachirin Said usai upacara di halaman Setda Demak, kemarin. (WAHIB PRIBADI/RADAR SEMARANG)

DEMAK – Empat sekolah di Kabupaten Demak mendapatkan penghargaan Adiwiyata Nasional dari Kementerian Ligkungan Hidup dan Kementerian Pendidikan Nasional. Keempatnya mendapat penghargaan, karena dinilai peduli lingkungan dan budaya. Yakni Madrasah Ibtidaiyyah Negeri (MIN) Desa Jungpasir, Kecamatan Wedung; SMPN 1 Demak; SMPN 3 Mranggen, Kecamatan Mranggen serta MA Al Irsyad Kecamatan Gajah. Sedangkan, SMPN 2 Demak gagal meraih Adiwiyata karena ada kesalahan administrasi.

Kasi Pengawasan dan Pengendalian (Wasdal) Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Demak, Sugiharto mengatakan, empat sekolah berhasil memenuhi kriteria sekolah Adiwiyata yang peduli lingkungan dan berbudaya. Sekolah dinilai mampu mewujudkan kebijakan berwawasan lingkungan, dan dari sisi kurikulum juga berbasis lingkungan. Sedangkan, kegiatannya lebih partisipatif serta pengelolaan sarana pendukung lingkungan di sekolah yang memadai. “Untuk SMPN 2 sebenarnya layak untuk meraih Adiwiyata. Tapi karena ada kesalahan administrasi sehingga gagal, kami akan mengusulkan lagi,” katanya didampingi Staf Moch Syafril Jalal di kantornya, kemarin.

Empat sekolah yang meraih Adiwiyata mampu mengakomodasi budaya lingkungan yang baik di sekolah. “Ada partisipasi semua elemen di sekolah. Mulai siswa, komite, orang tua, petugas, guru semua terlibat di dalamnya,” imbuhnya. Ia menambahkan untuk mendapatkan penghargaan tidak mudah. Sekolah harus menjalani seleksi ketat ditingkat kabupaten kemudian diajukan ke provinsi dan nasional. Dengan meraih Adiwiyata tentu akan mengangkat brand atau nama sekolah tersebut. “Sekarang ini, semua sekolah berlomba-lomba untuk meraih Adiwiyata. Ini setelah tidak ada lagi program RSBI,”imbuhnya.

Setelah menjadi Adiwiyata lingkungan, maka sekolah bisa mengajukan sebagai Adiwiyata mandiri. Dengan syarat, sekolah itu minimal memiliki 10 sekolah binaan. Saat ini, baru SMAN 1 Demak yang menuju sekolah Adiwiyata mandiri. Kepala Kantor Lingkungan Hidup, Suyatman menambahkan, isu lingkungan kini menjadi isu global. Sebab, semua yang hidup didunia ini bertumpu pada kondisi lingkungan. “Lingkungan yang sehat menjadi hak asasi manusia. Karena itu, adanya Adiwiyata sekolah ini bisa memacu lembaga pendidikan agar lebih peduli pada penataan lingkungan masing-masing. Ini bagus sekali,” katanya. (hib/fth)