Sopir Pabrik Tewas Ditikam

312

BANYUMANIK – Seorang sopir pabrik keramik, beridentitas Dahri, 42, warga Gertas RT 03 RW 06, Brongkol, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, ditemukan tewas bersimbah darah di teras Toko Hongkong, Jalan Setiabudi nomor 86 E, Ngesrep, Banyumanik, Semarang, Minggu (18/1) pagi kemarin.

Diduga, korban ditikam menggunakan senjata tajam mengenai dada bagian kanan. Saat ditemukan, posisi tubuh korban telentang setengah bersandar di dinding toko. Masih mengenakan helm warna putih dan jaket warna merah hitam. Tangannya posisi memegang bekas luka di dada bagian kanan.

Sedangkan di sekitar tubuh korban berceceran darah. Diduga kuat, Dahri tewas akibat dibunuh menggunakan senjata tajam. Namun belum diketahui apa motif pembunuhan tersebut. Motor Honda Supra X 125 H 6122 MV, milik korban juga tergeletak tak jauh dari tubuh korban.

Kali pertama, jasad korban ditemukan sekitar pukul 06.00 oleh seorang karyawati Toko Roti Buana Kurniasari, 20, warga Randusari, Semarang Selatan. Saat itu, Kurniasari yang lokasi kerjanya di samping lokasi kejadian, hendak masuk kerja. ”Saya melihat korban tergeletak di depan toko lampu dan alat listrik Hongkong. Kondisinya bersimbah darah,” ujarnya, kemarin.

Awalnya dia mengira ada gelandangan sedang tidur di emperan toko, namun setelah dipastikan malah ada darah. Mendapati hal itu, Kurniasari langsung lari meminta pertolongan teman di dekat Patung Kuda. Sebelum akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian. Hal itu sontak membuat gempar, sejumlah warga berbondong-bondong mendekati lokasi kejadian.

Tak lama berselang, tim dari Polsek Banyumanik, dan Inafis Polrestabes Semarang, tiba di lokasi kejadian. Sejumlah petugas melakukan identifikasi dan evakuasi, termasuk memintai keterangan saksi.

Berdasarkan olah TKP, korban tewas dengan posisi setengah bersandar di tembok. Sementara barang berharga milik korban tidak ada yang hilang. Bahkan, sepeda motor masih berada di dekat korban.

Selain itu, petugas menemukan luka bekas tusukan senjata tajam selebar kurang lebih 9 sentimeter di dada kanan atas korban. Meski demikian, belum dapat diketahui secara pasti motif pembunuhan tersebut.

Adapun jenazah korban, kini berada di RS Bhayangkara Semarang untuk diotopsi. Hal itu untuk mengetahui penyebab kematian korban dan perkiraan waktu kematian. ”Diduga korban tewas pada dini hari tadi. Sekitar pukul 02.00 sampai pukul 05.00. Pastinya nanti dari tim dokter,” ujar seorang petugas Inafis Polrestabes Semarang.

Sementara itu, tewasnya Dahri membuat heboh masyarakat sekitar. Bahkan pengguna jalan yang penasaran ikut menyaksikan proses evakuasi korban dari tepi jalan raya. Lokasi mulai sepi setelah jenazah dibawa ke RS Bhayangkara dengan menggunakan mobil ambulans.

Terkait dugaan pembunuhan tersebut, Kasat Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Sugiarto mengatakan pihaknya belum dapat memastikan. ”Belum dapat kami pastikan apakah ini pembunuhan atau tidak. Sebab barang korban masih, sepeda motor saja masih. Tapi tadi ada luka bekas benda tajam di dada atas sebelah kanan sekitar 9 cm,” katanya saat ditemui di lokasi kejadian.

Sugiarto menambahkan, untuk mengetahui penyebab kematian korban, pihaknya langsung mengevakuasi korban. Jenazah korban dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi. ”Masih kami selidiki penyebab kematiannya. Sekarang ada di rumah sakit. Pihak keluarga juga sudah dihubungi,” pungkasnya.

Sementara itu, sanak saudara korban, masih tak percaya kalau mayat bersimbah darah itu Dahri. Selama ini, Dahri bekerja sebagai seorang sopir pabrik keramik di Kawasan Industri Candi Jalan Gatot Subroto Semarang. Sebelum ditemukan tewas, diduga Dahri dalam perjalanan hendak pulang ke Gertas RT 03 RW 06, Brongkol, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang.

”Dia memang belum menikah. 1 Februari 2015 mendatang rencananya akan tukar cincin,” kata kakak korban, Ngateni, 46, warga Jurang RT 2 RW 1 Bedono, Jambu, Kabupaten Semarang, saat dimintai keterangan di Mapolrestabes Semarang, kemarin.
Dahri rencananya akan menyunting seorang wanita di daerah Kedungbatu Semarang. Namun atas musibah ini, terpaksa rencana itu batal. Pihaknya mengaku menerima kabar kalau adiknya meninggal di Semarang, diberitahu oleh salah seorang saudara. ”Saya kemudian berangkat bersama Pak Kepala Dusun (Kadus). Setelah mengecek di RS Bhayangkara ternyata benar. Dia adik saya,” katanya.

Selama ini, Dahri memang sering pulang larut malam karena pekerjaannya sopir. ”Kalau pulang biasanya tiga hari sekali, kadang juga seminggu baru pulang,” imbuhnya.

Mengenai apakah Dahri selama ini ada masalah? Menurut Ngateni sejauh ini tidak ada masalah. Baik di dalam keluarga maupun di kampungnya. ”Baik-baik saja, tidak ada masalah. Setahu saya, selama ini dia tidak punya musuh,” katanya.
Dia mengaku pasrah jika memang ini yang sudah digariskan oleh Tuhan. Ia juga berharap agar pihak kepolisian bisa mengusut dengan cepat hingga menangkap siapa pembunuh sadis tersebut. (amu/ida/ce1)