Protes Merger Kelurahan, Gelar Istighotsah

437
ISTIGHOTSAH : Warga menggelar istighotsah dan tahlil di makam Mbah Landung pada Kamis malam, (15/1). (istimewa)
ISTIGHOTSAH : Warga menggelar istighotsah dan tahlil di makam Mbah Landung pada Kamis malam, (15/1). (istimewa)
ISTIGHOTSAH : Warga menggelar istighotsah dan tahlil di makam Mbah Landung pada Kamis malam, (15/1). (istimewa)

PEKALONGAN – Berbagai aksi langsung muncul di wilayah eks kelurahan Landungsari, sejak merger kelurahan resmi diberlakukan. Nomenklatur baru yang menghilangkan kata Landung, membuat warga menjadi marah sehingga munculah aksi.
Diawali dengan mencoret papan nama kelurahan yang bertuliskan Noyotaan, sampai akhirnya mengadakan aksi damai bersama pengumpulan tanda tangan menuntut pengembalian nama Landungsari, Jumat (16/1). Malam sebelum aksi damai, Kamis (15/1), sebagian warga Landungsari terlebih dulu menggelar istighotsah dan tahlil bersama di makam Mbah Landung, tokoh yang dianggap sebagai pendiri wilayah Landungsari.

Puluhan warga berkumpul di areal makam yang terletak di gang 1C, RT 2 RW I, Kelurahan Noyontaansari (dulu Landungsari). Memang tak hanya momentum ini saja, setiap malam Jumat Kliwon, makam tersebut selalu ramai peziarah, baik lokal maupun dari wilayah tetangga.

Tapi kegiatan kali ini mempunyai makna berbeda, warga seolah meminta restu untuk memperjuangkan nama Landungsari kembali pada aksi keesokan harinya. Benar saja, tak sekedar istighotsah. Usai pembacaan istighotsah dan tahlil, acara berlanjut dengan dialog budaya yang tentunya membahas sejarah tentang Mbah Landung. Dihadiri sejumlah tokoh setempat, sampai mantan Lurah.

Ustadz Hakim salah satu sesepuh, membuka kisah saat Mbah Landung masih hidup. Menurut Ustadz Hakim, dari cerita yang didapat secara turun temurun, Mbah Landung diperkirakan hidup pada abad 16 hingga abad 17. Atau pada tahun 1600 sampai 1700 masehi. Beliau berasal dari Semarang bagian timur, atau yang saat ini menjadi wilayah Demak. Mbah Landung juga diketahui hidup sezaman dengan Bupati Pertama Batang. “Beliau hidup pada tahun 1600an. Katakanlah jika umurnya mencapai 100 tahun, maka beliau wafat pada tahun 1700an. Banyak versi yang berkembang tentang cerita Mbah Landung,” tuturnya mengawali berkisah.

Cerita tentang Mbah Landung, dikisahkan juga oleh Ketua RT 3 RW I, Zaenal Arifin. Dirinya dapat kisah turun temurun dari orang tuanya. Zaenal menceritakan bahwa nama asli Mbah Landung adalah Ki Ageng Jajar Sari bin Hasan bin Malik. Berasal dari Demak dan datang di wilayah Pekalongan untuk menyebarkan agama Islam. “Beliau datang kesini dan bermukim karena dulu disini suasananya sejuk, banyak pohon rindang,” tutur dia.

Lanjut Zaenal, Mbah Landung sudah berada di Pekalongan sejak zaman peperangan dengan VOC Belanda. Dialah yang ‘mbabat alas’ atau membuka lahan di wilayah Landungsari. Setelah perang selesai, Mbah Landung berfokus menyebarkan agama Islam hingga akhirnya mendirikan desa dengan nama Landungsari.

Dengan sejarah yang demikian panjang, warga Landungsari merasa tersakiti saat nama Landungsari dihilangkan akibat merger kelurahan. Mereka akhirnya rela berjuang untuk mengembalikan nama tersebut, atau setidaknya tetap ada nama Landung dalam nomenklatur baru, meskipun harus digabung dengan kata kelurahan lain. “Kami berharap dalam waktu dekat ada kejelasan dari Pemkot terkait hal ini. Intinya kami ingin nama Landung tetap ada,” kata tokoh Pemuda Landungsari, Ribut Achwandi. (han/ric)