Perlu Perda Khusus Olahraga

123

SEMARANG- Pemerintah Kota Semarang diminta membuat peraturan daerah (perda) khusus olahraga. Pasalnya, selama ini sarana prasarana menuju Semarang Kota Atlet masih belum memiliki payung hukum kuat.

Kepala Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang, Gurun Risyadmoko, mengatakan, keinginan Semarang menjadi Kota Atlet masih terbatasi oleh belum adanya dasar hukum untuk melakukan kegiatan dan pengembangan keolahragaan. Meskipun kegiatan olahraga saat ini masih tanpa adanya perda, namun untuk menguatkan komitmen menuju Kota Atlet dibutuhkan perda yang menjadi payung hukum pelaksanaan dan pengembangan olahraga itu sendiri.

“Dengan sebuah perda komitmen untuk membangun sarana prasarana olahraga yang memadai juga akan semakin kuat. Sehingga kebutuhan perda ini sebagai langkah awal yang nantinya dapat diwujudkan,” ungkapnya.

Dikatakan, sarana dan prasarana olahraga di Kota Semarang belum representatif dan belum memadai. Menurutnya, GOR Jatidiri masih aset Pemprov Jateng. Sedangkan GOR pembangunannya saat ini masih belum selesai. “Rencana akan dibangun sport center di daerah Mijen, perkembanganya masih belum jelas,” katanya.

Diakuinya, Semarang masih kalah tertinggal dengan kota lain, seperti Surabaya yang sudah memiliki Gelora Bung Tomo. Pusat olahraga tersebut dibangun dengan anggaran mencapai Rp 400 miliar yang semua ditanggung dari APBD Kota Surabaya. Pihaknya berharap, legislatif segera mengajukan perda tersebut.

“Harapan kami seperti itu. Dewan dapat mengajukan inisiatif untuk pembuatan perda tersebut dalam pelaksanaan dan pengembangan olahraga. Selain itu supaya Semarang Kota Atlet bisa lebih tercapai,” terangnya.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang Anang Budi Utomo mengatakan, tidak keberatan apabila Dinsospora menginginkan perda olahraga. Tapi, untuk tahun ini prolegda sudah berjalan serta komisi yang membidangi olahraga dan kesejahteraan masyarakat ini sudah mengajukan dua rancangan perda.

“Tapi kami mendukung, kalau Dinsospora memang siap bisa kita lakukan kajian bersama dan pembuatan naskah akademik. Jika kajiannya matang, penyusunan draf raperdanya nanti gampang” katanya.

Anang menegaskan, kunci untuk dapat mengembangkan keolahragaan di Semarang memang dibutuhkan payung hukum. “Dalam kajian, diharapkan dapat ditemukan juga dasar hukum untuk membuat perda olahraga tersebut. Sedangkan soal siapa yang mengajukan inisiatif pembuatan perda, bisa dari dewan atau Dinsospora,” ujarnya. (mha/aro)