Jangan Beri Uang ke Anak Jalanan

164
PERLU PENANGANAN: Dua anak jalanan, salah satunya menggendong bayi sedang meminta uang kepada pengendara jalan di salah satu sudut Kota Semarang. Keberadaan mereka di jalanan melibatkan sindikat. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
PERLU PENANGANAN: Dua anak jalanan, salah satunya menggendong bayi sedang meminta uang kepada pengendara jalan di salah satu sudut Kota Semarang. Keberadaan mereka di jalanan melibatkan sindikat. (Adityo Dwi/Radar Semarang)
PERLU PENANGANAN: Dua anak jalanan, salah satunya menggendong bayi sedang meminta uang kepada pengendara jalan di salah satu sudut Kota Semarang. Keberadaan mereka di jalanan melibatkan sindikat. (Adityo Dwi/Radar Semarang)

GUBERNURAN – Dinas Sosial (Dinsos) Jateng meminta masyarakat melapor bila menemukan pengemis maupun pengamen yang meminta-minta dengan cara memaksa. Masyarakat diimbau tidak memberikan uang kepada peminta-minta dan pengamen karena dianggap akan membelenggu mereka terus berada di jalanan.

Kepala Dinsos Jateng Budi Wibowo mengatakan pihaknya membuka layanan pengaduan melalui Facebook, Twitter, dan website Lapor Gub. ”Beberapa waktu lalu kami menerima laporan ada anak jalanan di kawasan Tugu Muda yang meminta uang dengan memaksa. Setelah kami cek, ternyata pelakunya sudah pergi. Sepertinya mereka melakukan aksi dengan berpindah-pindah,” katanya.

Menurutnya keberadaan anak jalanan sudah melibatkan sindikat, bahkan disinyalir ada praktik trafficking dengan memanfaatkan anak kecil. ”Ada yang disuruh orang tuanya turun ke jalan. Mereka juga harus setor uang ke sindikat,” paparnya.

Dikatakannya, keberadaan para pengemis dan pengguna jalan yang memberikan uang ibarat pepatah ”Ada Gula Ada Semut”. Menurutnya sudah berkali-kali Tim Reaksi Cepat yang terdiri atas petugas Dinsos, Satpol PP, Kepolisian, dan Dinas Kesehatan (Dinkes) melakukan razia pengemis dan anak jalanan. Namun setelah dirazia, selalu ada pengemis dan pengamen lainnya yang turun ke jalan. ”Mereka akan tetap berada di jalan selama ada yang memberikan uang,” ujarnya.

Karenanya pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada pengemis maupun pengamen. Pesan tersebut sudah disosialisasikan, termasuk diselipkan pada pesan suara di beberapa traffic light di Kota Semarang. ”Kami mengimbau agar masyarakat menyalurkan bantuan kepada lembaga yang dipercaya. Sebab memberi uang kepada pengemis dan anak jalanan sama saja terus membelenggu mereka berada di jalan,” paparnya.

Dinsos sendiri menggandeng sejumlah pihak dalam kebijakan tersebut. Di antaranya Badan Amil Zakat (BAZ) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI). ”Yang banyak muncul sekarang ini mereka yang joget-joget di jalanan. Kami mengimbau masyarakat bisa bersedekah, namun salurkanlah ke lembaga yang dipercaya,” imbuhnya.

Selain pendekatan preventif, pihaknya juga terus melakukan razia satu bulan sekali. Mereka yang terjaring razia akan ditempatkan sementara di panti Margo Widodo, Pedurungan. Selanjutnya akan diidentifikasi dan dipisahkan antara anak jalanan, pekerja seks komersial (PSK), maupun orang dengan gangguan jiwa. ”Setelah di-assessment, baru disalurkan ke balai-balai yang menangani secara khusus,” ungkapnya. (ric/ce1)