Bukit Wadas Jaran Berpotensi Longsor

367
RAWAN LONGSOR : Sejumlah petugas sedang melakukan penelitian di atas bukit Wadas Jaran, Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang yang berpotensi longsor. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
RAWAN LONGSOR : Sejumlah petugas sedang melakukan penelitian di atas bukit Wadas Jaran, Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang yang berpotensi longsor. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)
RAWAN LONGSOR : Sejumlah petugas sedang melakukan penelitian di atas bukit Wadas Jaran, Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang yang berpotensi longsor. (FAIZ URHANUL HILAL/RADAR SEMARANG)

KAJEN – Tanah seluas satu hektare di atas bukit Wadas Jaran, Dusun Kemlokolegi Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan ternyata telah mengalami pergeseran. Tentu saja, hal itu menjadi perhatian tersendiri lantaran belakangan guyuran hujan terus terjadi di atas bukit bermaterial batu padas setinggi 300 meter tersebut.

Untuk mengetahui kerawanan longsor di bukit Wadas Jaran, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan bersama Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah dan tim ahli dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dari Bandung didatangkan ke lokasi untuk melakukan kajian.

Petugas Dinas ESDM Jawa Tengah, Risdianto mengatakan, tim ahli geologi yang diketuai Herry Purnomo turun ke lapangan untuk melakukan kajian di Desa Wangkelang. Penelitian itu dilakukan terkait kesiapsiagaan menghadapi musim hujan dan mengantisipasi bencana longsor. “Jika hujan dengan intensitas tinggi terus mengguyur wilayah itu, maka material di atas bukit setinggi 300 an meter itu bisa meluncur ke bawah. Istilahnya longsor lungsuran,” ungkapnya didampingi Camat Kandangserang, Istiyanto dan Kepala BPBD Bambang Sudjatmiko, Senin (5/1).

Risdiyanto memaparkan, gerakan tanah yang disebabkan keruntuhan tarik, diikuti dengan tipe gerakan jatuh bebas akibat gaya gravitasi (gravity fall). Melihat kondisi daerah bencana, telah terjadi gerakan tanah yang sebagian sudah mengalami pergeseran dengan luas sekitar 1 hektare, dengan posisi di atas Desa Kandangserang. “Masih terjadi longsor susulan berupa rekahan-rekahan yang diperkirakan dapat membahayakan pemukiman penduduk (Desa Kandangserang),” jelasnya.

Gerakan tanah di Desa Wangkelang atau di atas bukit Wadas Jaran disebabkan oleh ketidakstabilan lereng yang tersusun oleh material lepas tanah di atas Desa Kandangserang tepatnya bagian selatan tersebut. Material lepas tanah itu berada di atas lapisan dasar batu lempung, sehingga apabila terkena air akan bersifat licin pada batuan dasarnya. Sehingga potensi runtuhan pada lokasi tersebut sangat tinggi. Sebab lapisan tanah di atas batuan dasar lempung telah mengalami pergeseran dan terakumulasi pada lereng terjal.

“Jika hal itu terjadi (bencana longsor) tidak menutup kemungkinan efeknya sama dengan longsor di Jemblung, Banjarnegara. Apabila dianggap perlu dapat dilakukan tindakan penetapan siaga bencana longsor. Sebab longsor susulan masih memungkinkan terjadi,” jelasnya.

Risdiyanto menambahkan, untuk wilayah Balai ESDM Serayu Utara, beberapa titik rawan longsor yang dipantau diantaranya di Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Watukumpul Kabupaten Pemalang, dan daerah Sirampog, Kabupaten Brebes. “Di Kandangserang, titik dengan tingkat kerawanan longsor tinggi adalah di Desa Wangkelang dan Kandangserang,” imbuhnya.

Camat Kandangserang, Istiyanto menambahkan, longsor pernah terjadi di bukit Wadas Jaran Jumat (3/1) malam. Saat itu, sekitar 421 warga di RT 5 dan RT 6, RW 2, Desa Kandangserang, berhamburan melarikan diri. “Kemarin ini, longsor, dan suaranya itu seperti mesin pesawat terbang. Tidak ada korban, material longsor hanya mengenai area pertanian di bawah bukit. Dan tidak sampai ke wilayah pemukiman penduduk,” ungkapnya.

Istiyanto mengatakan, selama musim hujan, pihak kecamatan menerapkan piket 24 jam untuk memantau kemungkinan bencana. Sebab, dari 14 desa yang ada di kecamatan itu semuanya rawan longsor. Sedangkan potensi paling rawan ada di Desa Wangkelang, Bojongkoneng, dan Luragung.

Jika longsor terjadi di bukti Wadas Jaran, maka area terdampak bisa mencapai seluas 23 hektare, termasuk mengancam wilayah pemukiman. “Setiap hari kami piket 24 jam, meningkatkan kewaspadaannya dengan ikut memantau lingkungan sekitar,” kata Istiyanto. (hil/ric)