Sudah Edarkan Rp 2 M

146

SOLO– Tersangka pemalsuan uang yang ditangkap Polresta Solo merupakan residivis kasus yang sama pada 2011 lalu. Bukan hanya itu saja, diduga sekitar Rp 2 milliar upal telah beredar di pulau Jawa, khususnya Jawa Tengah.

Kepada wartawan, Andrea Dedi Wahyono, 44, mengaku pernah menjalani hukuman atas kasus yang sama 2011 lalu. Ia divonis enam bulan penjara di Pengadilan Negeri Sleman kemudian mendekam di Lapas Cebongan. “Sebelumnya pernah masuk, enam bulan di Cebongan, kasusnya juga sama uang palsu,” kata Dedi.

Dedi mengaku bahwa uang palsu tersebut dibelinya dalam bentuk jadi di Jakarta. Rencananya upal tersebut akan dijual kembali dengan harga Rp 5.000.000 per Rp 100.000.000 uang palsu. Dengan harga itu, Dedi mengaku mendapatkan untung Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

“Saya tidak membuat uang palsu kok, saya beli di Jakarta sudah seperti itu,” terang Dedi.

Pengakuan mengejutkan keluar dari mulut Dedi bahwa selama ini ia telah dua kali membeli upal dari Jakarta. Kata dia, hampir Rp 2 miliar uang palsu telah dijualnya ke sejumlah tempat di sekitar Jawa Tengah. (kwl/ton)

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Solo Ismet Inono mengaku telah menerima informasi terkait penggagalan peredaran upal senilai Rp 1,2 Miliar tersebut. Saat ini pihaknya masih menunggu laporan secara tertulis dan berita acara dari tim ahli BI Solo.

“Informasi temuan upal itu sudah kita terima sejak Kamis (25/12). Langsung kita tindaklanjuti dengan menerjunkan tim ahli sebagai saksi ahli ke Polresta Solo. Informasi yang kami terima, temuan upal itu masih diteliti. Apakah semuanya benar upal atau ada yang berupa uang mainan,” papar Ismet.

Karena setiap laporan upal harus ada bentuk fisiknya, lanjut Ismet, Pihaknya tak bisa langsung menginformasikan ke publik setiap kali ada temuan upal. Tapi harus menelitinya secara detail.

“Bank Indonesia sudah melakukan berbagai upaya terkait beredarnya upal. Salah satunya dengan terus koordinasi dengan kepolisian. Termasuk mengirimkan ahli ke polresta untuk mengecek keaslian uang yang ditemukan. Hingga saat ini kerjasamanya sudah semakin baik,” jelasnya.

Di sisi lain, BI juga aktif melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kewaspadaan peredaran upal. Di antaranya dengan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah hingga perguruan tinggi. Termasuk di gelaran car free day (CFD).

“Mulai 2015 kita akan lebih intens melakukan sosialisasi upal ke beberapa daerah di pinggiran Solo. Karena masih banyak masyarakat yang belum bisa mengenali ciri-ciri uang palsu,” terangnya.

Terkait munculnya temuan upal dalam nominal besar menjelang akhir tahun, Ismet membantah bahwa temuan itu menjadi tren pemalsuan setiap akhir tahun. Mengingat tahun lalu tak ada temuan upal dalam nominal yang besar.

Namun dia tak mengelak, pengungkapan upal senilai Rp 1,2 Miliar itu merupakan kasus terbesar sepanjang 2014. Temuan upal tersebut masih didominasi pecahan nominal Rp 100 ribu, dibanding pecahan nominal lainnya. (edy/wa)