Harga BBM Naik, Nelayan Demak Resah

249
BANTU NELAYAN : Bupati Demak Dachirin Said memberikan bantuan langsung masyarakat (BLM) terkait Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Tangkap kepada 20 kelompok usaha bersama (KUB) senilai Rp 2 miliar di sela kunjungan Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarif Widjaya dan Dirjen Perikanan Tangkap, Gellwyn Yusuf di Pelabuhan Morodemak, Bonang, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)
 BANTU NELAYAN : Bupati Demak Dachirin Said memberikan bantuan langsung masyarakat (BLM) terkait Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Tangkap kepada 20 kelompok usaha bersama (KUB) senilai Rp 2 miliar di sela kunjungan Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarif Widjaya dan Dirjen Perikanan Tangkap, Gellwyn Yusuf di Pelabuhan Morodemak, Bonang, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

BANTU NELAYAN : Bupati Demak Dachirin Said memberikan bantuan langsung masyarakat (BLM) terkait Pengembangan Usaha Mina Pedesaan (PUMP) Perikanan Tangkap kepada 20 kelompok usaha bersama (KUB) senilai Rp 2 miliar di sela kunjungan Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan, Syarif Widjaya dan Dirjen Perikanan Tangkap, Gellwyn Yusuf di Pelabuhan Morodemak, Bonang, kemarin. (Wahib pribadi/radar semarang)

DEMAK- Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga kini membuat nelayan di wilayah Demak resah dan gelisah. Mereka galau terus-menerus lantaran pendapatan yang diperoleh lebih kecil dibandingkan pengeluaran, utamanya untuk kebutuhan solar perahu atau kapal yang digunakan untuk melaut.

Abdul Hadi, 42, nelayan warga Desa Purworejo, Kecamatan Bonang mengungkapkan, adanya kenaikan BBM dinilai sangat memberatkan. Karena itu, mereka menuntut pemerintah menurunkan kembali harga BBM tersebut. Apalagi, kata dia, SPBN di Morodemak, Bonang banyak dikuasai para pedagang atau bakul.

Sedangkan, nelayan harus mencari solar di SPBU lain jauh dari pelabuhan. Bila harga normal solar Rp 7.500 per liter, maka sebaliknya harga itu bisa mencapai Rp 8 ribu per liter jika beli solar di bakul. “Bagaimana lagi, pom bensin nelayan dikuasai bakul,” katanya. Menurutnya, sejak kenaikan BBM ini perolehan pemasukan bagi nelayan tidak seimbang dengan pengeluaran. “Pendapatan nelayan rata-rata hanya Rp 60 ribu sekali melaut. Apalagi, kalau tangkapan lagi sepi ikan. Sedangkan, untuk pergi melaut itu setidaknya butuh anggaran Rp 80 ribu untuk beli solar. Belum lagi, persiapan bekal melaut. Jadi, beban nelayan kecil sangat berat. Sekali melaut tetap tombok,” ujar Hadi.

Selain soal keluhan mahalnya solar nelayan, mereka juga meminta pemerintah segera memperbaiki alur kapal yang digunakan akses keluar masuk kapal di pelabuhan. Sejauh ini, kapal atau perahu terhambat dengan makin dangkalnya alur pelabuhan tersebut. Abdul Hadi juga meminta perhatian pemerintahan Jokowi-JK untuk memperhatikan pada alat tangkap nelayan. “Kita minta dibantu peralatan tangkap ikan yang ramah lingkungan,” katanya.

Sebagai nelayan, dia juga berharap pemerintah memperhatikan budidaya rumput laut yang kini sedang dikembangkan. “Apalagi, rumput laut ini bisa menyerap tenaga kerja banyak. Kita minta areal lahan rumput laut diperluas,” katanya.

Sementara itu, dalam kunjungan di Pelabuhan Morodemak, Kecamatan Bonang, kemarin, Dirjen Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gellwyn Yusuf mengakui bahwa, kenaikan harga BBM telah mempersulit usaha nelayan kecil. Dengan porsi yang mencapai lebih 60 persen dari total seluruh kebutuhan biaya operasional, maka kenaikan harga BBM sangat mempengaruhi kelayakan usaha penangkapan ikan. “Kenaikan BBM ini membuat nelayan kecil makin kesulitan,” ujarnya. (hib/ric)