Di-Bully, Siswi SD Masuk RS

755

SAMPANGAN – Kasus bully atau penganiayaan yang dialami siswa sekolah kembali menggemparkan Kota Semarang. Kali ini, dialami siswi kelas 5A di salah satu SD swasta di Sampangan, Semarang, berinisial KEI. Gadis mungil tersebut menjadi korban penganiayaan oleh sejumlah kakak kelasnya setelah kelasnya meraih juara lomba cerdas cermat yang digelar sekolah setempat.

Pelaku diketahui berinisial R, D, dan A, kesemuanya siswa kelas 6B sekolah tersebut. Peristiwa tersebut akhirnya dilaporkan orang tua korban ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang.

Kejadian berawal Rabu (17/12) lalu, para siswa perwakilan kelas 5A dan kelas 6B mengikuti lomba cerdas cermat yang diadakan di sekolah tersebut. Dalam lomba itu, siswa kelas 5A yang keluar sebagai juaranya. Tanpa diduga, setelah lomba, para siswa kelas 6B mendatangi kelas 5A. Rupanya mereka tak terima dengan kekalahan tersebut. Saat itulah terjadi pengeroyokan terhadap korban, KEI.

”Saya tidak habis pikir kenapa anak saya bisa menjadi korban pengeroyokan hanya karena kelasnya menang lomba,” tutur ibu korban, MUA, kepada Radar Semarang Jumat (19/12).

Akibat aksi kekerasan tersebut, korban mengalami sesak di bagian dada dan pusing di kepala akibat ditendang secara bergantian. Bahkan sampai sekarang, korban masih menjalani perawatan di rumah sakit.

”Anak saya masih kecil, di sekolah untuk belajar bukan untuk jadi korban kekerasan,” imbuh warga Perum Bukit Sukorejo, Gunungpati, Semarang tersebut.

Tak terima terhadap aksi kekerasan yang menimpa putrinya, didamping dua guru korban, A dan S, MUA pun melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Laporannya dicatat dalam berkas bernomor LP/B/1961/XII/2014/Jtg/Restabes. Sejak kemarin, kasus tersebut resmi ditangani unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reskrim Polrestabes Semarang.

Kepala sekolah korban, S, saat dikonfirmasi Radar Semarang soal kejadian ini lewat telepon tidak diangkat. Pun saat dikonfirmasi lewat pesan SMS, tidak dibalas.

Menanggapi kejadian tersebut, pengamat pendidikan Jateng, Muhdi menilai untuk mengatasi kekerasan antarsiswa sekolah perlu ada dorongan untuk membentuk pendidikan ramah anak. ”Kita turut prihatin dengan kekerasan yang terjadi pada siswa. Pendidikan harusnya tidak boleh ada kekerasan,” papar Muhdi.

Untuk mengatasi kekerasan pada anak atau siswa tersebut, pendidikan ramah anak harus didorong oleh pemerintah. ”Harus disosialisasikan kepada seluruh pengelola pendidikan, serta peserta didik agar mereka tidak melalukan bullying atau kekerasan,” tandasnya.

Dikatakan, butuh langkah-langkah progresif dari penanggung jawab pendidikan nasional, yakni Kementerian Pendidikan Dasar (Kemendikdas). Hal tersebut untuk menjamin bahwa lingkungan pendidikan itu harus aman dan ramah bagi anak-anak. Tidak hanya untuk kepentingan proses transfer of knowledge, tetapi juga tata nilai pergaulan aman, nyaman dan ramah bagi anak.

Di satu sisi, dirinya menilai peran orang tua untuk mencegah kekerasan juga sangat diperlukan mengingat pendidikan utama itu ada di rumah. ”Banyak sinetron-sinetron yang menampilkan adegan kekerasan siswa atau bullying, kalau anak-anak tidak didampingi, bisa jadi mereka akan meniru,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Bunyamin mengimbau sekolah untuk melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap perilaku siswa. Itu dilakukan untuk menghindari hal-hal buruk yang akan terjadi di kemudian hari.

”Saat istirahat guru harus tetap memantau dan mengawasi. Bisa dilakukan dengan keliling ke sudut-sudut sekolah, dan tempat-tempat yang terkadang luput dari pantauan,” ujar Bunyamin.

Menurut Bunyamin, terjadinya bullying di sekolah bermula dari belum adanya pemahaman intensif dan mendalam pada psikologi perkembangan siswa. Padahal anak didik atau siswa berada pada fase perkembangan.

”Solusinya ya dengan mempertebal pendidikan karakter siswa. Itu kan juga sudah diamanahkan dalam kurikulum 2013 bahwa pendidikan karakter harus selalu ditanamkan kepada siswa,” pungkas Bunyamin. (ewb/aro/ce1)