Setahun, Dua Ibu Hamil Meninggal

254

MAGELANG – Pemkot Magelang terus berupaya dalam menekan jumlah angka kematian ibu (AKI) melahirkan, salah satunya dengan sosialisasi. Tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Magelang, pada 2013 ada 1 AKI dan 2014 ada 2 AKI.

Kepala Dinkes Kota Magelang, Pantja Kuntjoro mengatakan, AKI dihitung per 100.000 kelahiran hidup. Angka 1 AKI sama dengan 50 per 100.000 kelahiran. Targetnya, AKI di Kota Magelang bisa jadi nol.

“Tahun 2008-2009 kami bisa mencapai angka nol. Kemudian dari tahun ke tahun angkanya bervariasi dan maksimal 3 AKI,” katanya saat ditemui di kantornya, Rabu (10/12).

Dia menjelaskan, untuk mengetahui AKI dibutuhkan audit maternal perinatal (AMP) yang melibatkan dokter penanggungjawab pelayanan, tim pengkaji, manajemen, pakar perguruan tinggi juga kalangan profesional. Penyebab AKI biasanya dari preeklamsi berat atau tekanan darah tinggi pada ibu hamil. Lalu penyakit penyerta serta terjadi emboli atau air ketuban pecah yang masuk ke pembuluh darah.

“Sehingga untuk ibu hamil perlu sekali memeriksakan kehamilannya secara berkala. Sehingga tahu kondisi ibu dan bayi yang ada dalam kandungan,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan Masyarakat dan Keluarga Berencana (BP2MKB) Kota Magelang Wulandari, membenarkan ada 2 kasus AKI di Kota Magelang pada 2014. Namun satu kasus merupakan orang luar kota yang melahirkan di Magelang. Sehingga pihaknya hanya mencatat 1 kasus AKI di Kota Magelang, artinya tetap stabil dari 2013.

“Kami tidak berhenti mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa sebagai seorang ibu harus punya power untuk mengambil keputusan, kemudian gunakan pelayanan medis saat melahirkan. Jangan sampai melahirkan di dukun bayi, itu tidak dibenarkan,” tegasnya.

Upaya lain untuk menekan AKI adalah memanfaatkan pelayanan puskesmas dan posyandu, agar gizi bisa terpantau. “Ibu hamil itu butuh gizi yang cukup. Kekurangan gizi juga bisa menyebabkan AKI,” tambahnya.

Lebih lanjut, AKI juga dipicu faktor keterlambatan penanganan. Hal itu, menurutnya, yang paling sering terjadi. Wulandari berharap, jika ibu hamil sudah merasakan sakit di perut, agar segera memeriksakan diri.

“Jangan menunggu suami pulang dan mengantar, kalau memang sudah merasakan sakit perut maka langsung meminta bantuan. Penanganan yang terlambat kerap menyebabkan kematian ibu saat melahirkan,” tuturnya.

Wulan juga menyarankan untuk memperhatikan rentang kehamilan. Setidaknya jarak dengan kehamilan yang sebelumnya adalah 4-5 tahun. (put/ton)